Ini Alasan Pemkot Revisi Kenaikan PBB

METROSEMARANG.COM – Pemerintah Kota Semarang sempat menaikkan PBB tahun ini di kisaran 70 persen. Namun kemudian direvisi dan diturunkan 40 persen sehingga menjadi 30 persen.

Wali Kota Hendi secara simbolis menyerahkan SPPT PBB kepada Camat Semarang Tengah dan Kelurahan Pekunden di lantai 8 Gedung Moch Ikhsan Balaikota Semarang, Kamis (8/3). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Sebagian Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) yang dibagikan kepada wajib pajak (WP)kemudian ditarik. Dan diganti SPPT PBB 2018 Baru yang secara simbolis Kamis (8/3) diserahkan ke Camat dan Lurah untuk dibagikan ke WP.

Rupanya, ini alasan Pemkot Semarang menurunkan hingga 40 persen nilai PBB tersebut. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, penurunan PBB berdasarkan aspirasi masyarakat yang merasa sangat keberatan dengan kenaikan.

‘’Kami tidak dapat menutup mata terkait keluhan-keluhan dari masyarakat. Kerena itu, saya minta untuk langsung dilakukan koreksi terkait besaran PBB 2018 itu. Saya tidak ingin di satu sisi ada yang kita kejar, tapi di sisi lain justru ada yang kita lupakan,’’ kata Hendi, sapaan karibnya, Jumat (9/3).

Lebih lanjut, berkaca pada sejarah, menurutnya ada contoh hancurnya sebuah negara karena kenaikan pajak yang tidak terima masyarakat. Negara Cina, Romawi, Prancis dan Uni Soviet (Rusia) dulu pernah bubar pemerintahannya, hanya karena mereka menaikkan pajak secara signifikan.

‘’Pemerintah atau kerajaan tidak mendengarkan aspirasi masyarakat, tidak melihat situasi masyarakat namun digenjot saja pajaknya. Rakyat akan melawan,’’ terangnya.

Berkaca pada sejarah itu, penentuan-penentuan tarif pajak atau kebijakan pemerintah yang kemudian tidak melihat suara masyarakat, akan berakibat masyarakat tidak cinta dan bangga dengan lingkungannya terutama wilayahnya.

‘’Inilah yang kemudian saya sampaikan (kepada jajaran Pemkot Semarang), bahwa hari ini di Kota Semarang masyarakat berteriak karena kenaikan pajaknya sangat tinggi, mungkin kalau kita lihat dari statistik inflasi di Semarang pada Januari memang sangat tinggi, sehingga harga-harga barang terutama bahan pokok melonjak sangat tinggi,’’ jelasnya.

Melihat keluhan dari masyarakat itu, kata Hendi, maka pihaknya menurunkan dulu nilai PBB yang sudah dinaikkan. Meskipun, pihaknya mengerti dan paham PBB adalah sumber pendapatan untuk membangun. Tapi kenaikan direm dulu supanya naiknya tidak terlalu signifikan. (duh)

You might also like

Comments are closed.