Home > METRO BERITA > Ini Empat Golongan Pemuda Tersesat Menurut Hendrar Prihadi

Ini Empat Golongan Pemuda Tersesat Menurut Hendrar Prihadi

METROSEMARANG.COM – Hari Pahlawan 10 November mengingatkan semuanya akan jasa para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak muda termasuk salah satu yang diminta meneladani para pahlawan sebagai generasi penerus bangsa. Tetapi ternyata ada golongan anak muda yang tersesat.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi
Foto: metrosemarang.com

Menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, ada empat golongan anak muda yang dinilainya tersesat. Yaitu tersesat akibat pergaulan bebas selama mengenyam pendidikan formal. Mereka tidak layak untuk ditiru oleh anak-anak muda zaman sekarang jika ingin menjadi pemuda harapan bangsa dan negara.

Hendi, sapaan akrabnya, menyebutkan kriteria keempat golongan pemuda tersesat itu. Pertama, menurut Hendi adalah anak muda tidak pintar dan tidak peduli. Anak muda golongan ini biasanya mencari aktualisasi dirinya dengan hal-hal yang sesat.

Kemudian kriteria pemuda yang kedua, menurutnya pemuda yang ingin cepat terkenal tapi dengan cara menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba dan menggelar aksi balap liar.

Golongan ketiga, pemuda pintar tapi tidak peduli dengan bangsanya sendiri. Padahal bangsanya telah memberikan beasiswa ke luar negeri tetapi dia tidak ingin kembali ke negaraya sendiri untuk membangun bangsanya.

“Tapi karena dia tidak peduli, begitu lulus di Inggris, begitu lulus di Amerika, begitu lulus di Jerman tapi dia nggak mau pulang ke Indonesia? Kenapa? pasti gajinya lebih gede di sana. Dia lupa, bahwa kecil dia lahir di Indonesia, dia bernapas di Indonesia, dia diberi beasiswa oleh negara Indonesia dan dia tidak peduli pada saat Indonesia membutuhkan ilmunya. Itu namanya kelompok ketiha,” ujarnya, Jumat (10/11).

Kemudian Hendi menambahkan, jenis pemuda yang terakhir adalah pemuda yang mempunyai kepintaran namun dirinya tidak peduli. Seorang anak muda yang ingin membangun bangsanya, ingin membangun kotanya, tapi tidak punya kemampuan untuk membaca bahwa yang dia bantu keliru.

“Contohnya apa? Ini tadi, suka ngeshare-ngeshare berita hoax. Lho kamu kok ngeshare berita hoax? Saya ingin memberitahu yang lain. Bahwa Indonesia sedang begini-begini. Padahal itu tidak benar,” kata Hendi. (duh)