Home > METRO BERITA > Ini Profil Museum Mandala Bhakti yang akan Dijadikan Lahan Parkir

Ini Profil Museum Mandala Bhakti yang akan Dijadikan Lahan Parkir

Museum Mandala Bhakti Foto Metrosemarang/dok
Museum Mandala Bhakti
Foto Metrosemarang/dok

WACANA memecah kemacetan di Jalan Pandanaran dengan memindahkan lokasi parkir ke halaman Museum Mandala Bhakti masih terus dikaji. Bukan saja soal kepemilikan lahan yang menjadi aset Kodam IV/Diponegoro, tapi menjadikan kawasan bersejarah sebagai area parkir diakhawatirkan bakal melunturkan nilai historis dari bangunan yang berdiri sejak tahun 1930 tersebut.

Padahal, museum yang berada di Jalan Soegijapranata itu memiliki sejarah panjang yang tak bisa dipisahkan dari Kodam IV/Diponegoro maupun perjuangan warga Kota Semarang memertahankan kemerdekaan. Berikut ini profil singkat tentang Museum Mandala Bhakti Semarang.

Museum Perjuangan TNI ini terletak di Jalan Soegijapranata No. 1, tepat berhadapan dengan monumen Tugumuda. Bangunan yang dirancang arsitek I. Kuhr E. dari Firma Ooiman dan van Leeuwen ini awalnya digunakan untuk Raad van Justitie atau Pengadilan Tinggi bagi golongan rakyat Eropa di Semarang.

Melihat dari tahun berkaryanya Ir. Kuhr E. di Indonesia, diperkirakan bahwa bangunan Raad van Justitie ini dibangun sekitar tahun 1930. Tahun 1950-an bangunan ini digunakan oleh Kodam IV Diponegoro sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II. Dan pada tahun 1985 resmi digunakan untuk museum yang menyimpan koleksi tentang data, dokumentasi, dan persenjataan TNI baik yang tradisional maupun modern.

Seluruh koleksi yang tersimpan dalam museum, merupakan bukti fisik dan faktual sejarah perjalanan Kodam tersebut. Di depan museum Mandala Bhakti diletakan senjata berat 25 PDR field gun yang kondisinya masih baik. Salah satu koleksi yang bernilai sejarah tinggi ialah pistol kuno jenis Luger dan machine gun Browning. Senjata ini diyakini digunakan dalam pertempuran lima hari di Semarang.

Museum Mandala Bhakti memiliki dua lantai dengan orientasi bangunan menghadap ke arah Utara. Pondasinya terbuat dari batu dengan dinding dari bata berplester. Atapnya berbentuk limasan dengan penutup dari genteng. Terdapat serambi pada sepanjang sisi depan bangunan, baik pada lantai pertama maupun lantai kedua. Museum ini dibuka untuk umum dari Selasa sampai Kamis (08.00 – 18.00), Jumat (08.00 – 10.30), Minggu (08.00 – 12.00). Hari senin, sabtu dan hari besar tutup.

Meski menyimpan banyak benda bersejarah, keberadaan museum ini kurang mengundang minat pengunjung. Sepanjang hari museum ini sangat jarang dikunjungi masyarakat. Hanya sesekali rombongan pelajar dan mahasiswa terlihat.

Koleksi Hilang

Lebih ironis lagi, kondisi museum nampaknya kurang mendapat perhatian dari otoritas setempat. Jangankan perawatan bangunan, pengelola juga kurang mengucurkan dana untuk perawatan benda koleksi. Akibatnya, beberapa koleksi museum sekarang banyak yang mulai rusak/aus dirambati jamur dan debu. Mengejutkan lagi, beberapa koleksi inti museum dikabarkan sudah hilang.

Misalnya, senjata laras panjang jenis “Karaben” dulu digunakan Kol.Inf.Yasir Hadibroto (kemudian jadi Pangdam VII/Diponegoro berpangkat Mayjen) untuk “membereskan” DN.Aidit, tokoh utama CC (Comite Central) Partai Komunis Indonesia (PKI) di daerah Solo-Boyolali, sudah sejak lama tidak lagi berada di tempatnya dalam museum ini.

Konon, beberapa orang (pejabat) mengambil koleksi di museum. Alasannya meminjam sementara, namun faktanya tidak pernah kembali. Ada pula yang beralibi, benda yang disimpan dalam museum merupakan “milik pribadi”, kemudian diminta kembali untuk disimpan secara pribadi. (MS-08)