Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > International Observe the Moon Night, Menelisik Mitos tentang Bulan

International Observe the Moon Night, Menelisik Mitos tentang Bulan

METROSEMARANG.COM – Bulan adalah jelmaan pemuda yang bertunangan dengan Matahari. Sebenarnya Bulan bersinar di siang hari dan Matahari bersinar di malam hari. Tetapi Matahari kemudian menjadi feminin, takut kegelapan, sehingga mereka tukar posisi. Bulan bersinar di malam hari dan Matahari bersinar siang hari.

Izun saat memaparkan mitos mitos tentang bulan di kampus UIN Walisongo,Sabtu (8/10). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Izun saat memaparkan mitos mitos tentang bulan di kampus UIN Walisongo,Sabtu (8/10). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Itulah mitos mengenai Bulan di Turki yang dipaparkan M. Ihtirozun Ni’am saat menyampaikan materi tentang mitologi dan fungsi Bulan pada acara observasi bulan yang sedang dilaksanakan serentak di seluruh dunia atau yang disebut dengan InOMN (International Observe the Moon Night) di Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (8/10). InoMN kali ini diinisiasi oleh mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang.

Ia juga menambahkan bahwa setiap daerah dulu punya mitosnya masing-masing terkait Bulan. “Dulu, orang Jerman menganggap bahwa kawah di Bulan yang terlihat seperti manusia sebenarnya adalah pencuri kubis yang tertangkap. Kemudian ia ditempatkan di Bulan sebagai hukumannya, supaya orang-orang bisa mengambil pelajaran darinya,” kata Izun kepada metrosemarang.com.

Ada banyak mitos-mitos tentang bulan, yang diungkapkan dalam InoMN. Izun berharap perhatian akan astronomi Islam (Falak) dapat terus berkembang di Jawa Tengah, terlebih UIN Walisongo menjadi salah satu titik observasi atau pemantauan yang diakui NASA.

Moelki Fahmi selaku koordinator acara, menuturkan InoMN di UIN Walisongo ini termasuk salah satu titik yang terdaftar di NASA. Hal ini dikuatkan lagi oleh pernyataan Ahmad Izzuddin saat memberikan sambutan sebagai Ketua Jurusan Ilmu Falak Pascasarjana UIN Walisongo. Menurutnya hanya ada 2 titik pemantauan di Indonesia yang terdaftar di NASA. Titik pertama terletak di LAPAN, dan yang kedua UIN Walisongo Semarang.

“Kita berharap dengan aktifnya astronom-astronom dan para pegiat ilmu falak di Indonesia ini, ke depan semoga Indonesia bisa memprakarsai hal-hal baru di bidang ilmu falak,” ungkap Izzuddin.

Sekitar 100 peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi dan pengamatan Bulan. Terlebih penitia menyediakan banyak alat yang menunjang pengamatan.

“Di sini ada theodolit, teleskop, binokuler, dan alat-alat lainnya yang bisa dimanfaatkan peserta untuk mengamati bulan nanti. Silakan peralatan tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin karena jarang-jarang alat ini bisa diakses masyarakat awam,” tutur Moelki.

Panitia cukup puas dengan acara tersebut. Karena pada malam tersebut cuaca tidak terlalu ekstrem, tidak turun hujan seperti malam-malam sebelumnya. Meskipun sore hari sebelum dilaksanakannya acara tersebut sempat turun hujan yang cukup lama. (vit)