Home > METRO BERITA > KOLOM METRO > Jatingaleh dan Akhir Kekuasaan Napoleon di Tanah Jawa

Jatingaleh dan Akhir Kekuasaan Napoleon di Tanah Jawa

Lapangan Banteng, Batavia, pada tahun 1895, dahulu dikenal sebagai Waterloo Plein, dinamakan demikian untuk mengenang kemenangan Pasukan Koalisi 7 Negara atas Napoleon di Waterloo. Disini terdapat tugu berbentuk pilar besar dengan simbol singa "Leeuw van Waterloo". Tugu ini dihancurkan pada masa pendudukan Jepang bersama dengan patung J.P Coen di sampingnya. (foto: kitlv.nl)
Lapangan Banteng, Batavia, pada tahun 1895, dahulu dikenal sebagai Waterloo Plein, dinamakan demikian untuk mengenang kemenangan Pasukan Koalisi 7 Negara atas Napoleon di Waterloo. Di sini terdapat tugu berbentuk pilar besar dengan simbol singa “Leeuw van Waterloo”. Tugu ini dihancurkan pada masa pendudukan Jepang bersama dengan patung JP. Coen di sampingnya. (foto: kitlv.nl)

Bagi yang suka membaca cerita sejarah pasti mengetahui peristiwa penting pada tahun 1815, yakni Pertempuran Waterloo yang menjadi akhir dari kedigdayaan Perancis dibawah Napoleon. Di Waterloo pasukan Perancis habis diremukredamkan oleh pasukan gabungan Inggris, Belanda, dan Prussia (Jerman). Namun, jika di Eropa akhir dari Napoleon berada di Waterloo, di Indonesia terdapat pula akhir dari kekuasaan Napoleon yakni di Jatingaleh, Semarang.

Pasca diangkatnya Louis Bonaparte, adik dari Napoleon Bonaparte sebagai penguasa Belanda pada 1805, maka sejak saat itulah Belanda menjadi bagian dari Kekaisaran Perancis. Di Indonesia yang kala itu bernama Hindia-Belanda akhirnya juga tunduk kepada Napoleon. Perang Napoleon pun sontak meluas juga di wilayah Nusantara. Perang mulai melanda Jawa kala Inggris menyerang Batavia dalam pertempuran sengit di Meester Cornelis (Jatinegara) pada tanggal 26 Agustus 1811 hingga mundur ke Bogor. Dari Bogor, pasukan Hindia-Belanda yang dipimpin Janssens, mundur ke Semarang.

Dalam buku Jan Roocher berjudul Perang Napoleon di Jawa 1811 disebutkan bahwa tentara Belanda-Perancis mempersiapkan usaha terakhirnya untuk memukul mundur pasukan Inggris di Semarang, tepatnya di kawasan Jatingaleh. Keadaan geografis di Jatingeleh dirasa menguntungkan pihak tentara Belanda-Perancis untuk membalik keadaan. Apalagi ditambah kekuatan pasukan diperkuat dengan datangnya bala bantuan dari Legiun Mangkunegaran pimpinan Prang Wedana (Mangkunegara II).

Perpaduan antara kepemimpinan yang kurang cakap dan moril pasukan yang rendah membuat lemah pasukan tersebut, hingga yang terjadi justru kebalikannya, serangan yang bertubi-tubi dan mengejutkan dari pihak Inggris pimpinan Mayor Jendral Auchmuty. Hal ini membuat pasukan Perancis mundur ke Ungaran lalu ke Tuntang, hingga akhirnya menyerah beberapa hari kemudian pada tangal 17 September 1811. Peristiwa itu dikenal sebagai Kapitulasi Tuntang dan sejak saat itu Inggris berkuasa di tanah Jawa hingga 1816. (Komunitas Lopen Semarang)

“Kunjungi juga laman Facebook Komunitas Lopen Semarang, salah satu komunitas pecinta sejarah di kota Semarang. Sapa juga mereka lewat akun Twitter @lopenSMG.”