Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Jelang MEA, Perajin Batik Harus Tingkatkan Daya Saing

Jelang MEA, Perajin Batik Harus Tingkatkan Daya Saing

Seminar “Pengembangan Green Business untuk Perusahaan Batik sebagai Pembawa Tradisi Budaya Jawa” di Unika Soegijapranata. Foto Metrosemarang
Seminar “Pengembangan Green Business untuk Perusahaan Batik sebagai Pembawa Tradisi Budaya Jawa” di Unika Soegijapranata. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir 2015 mendatang, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata meminta kepada perajin batik di Jawa Tengah agar selalu memperhatikan keramahan lingkungan. Jangan sampai terjadi pencemaran akibat limbah yang dihasilkan dari proses pewarnaan saat pembuatan batik.

Hal itu disampaikan Dr Wijayanto Hadipuro SE MT, peneliti batik Unika Soegijapranata di hadapan UKM pengusaha batik se-Jateng saat mengikuti seminar “Pengembangan Green Business untuk Perusahaan Batik sebagai Pembawa Tradisi Budaya Jawa”.

Wijayanto bersama timnya yakni Berta Bekti Retnawati dan Elisabeth Lucky Maretha tertarik meneliti tentang batik karena ini salah satu kekayaan budaya Jawa yang harus dipertahankan. Sebab, kata dia, dalam waktu dekat ada 10 negara Asia yang bakal melirik produktivitas batik di Indonesia. “Kita harus siap bertanding, untuk menuju persaingan, kualitas harus ditingkatkan, seperti pewarnaannya dibuat sealami mungkin,” tutur dosen Fakultas Ekonomi ini.

Dikatakan, untuk mendukung tercapainya pengusaha batik yang sukses diperlukan dukungan dari pemerintah setempat. Termasuk sosialisasi industri yang ramah lingkungan. “Untuk perajin batik, seperti Laweyan Solo, Pekalongan, Semarang, Klaten dan Lasem harus mulai berbenah,” ujarnya. (joe)