Home > METRO BERITA > Kain Rajutan Khas Banjarmasin Ini jadi Saingan Batik di Tanah Jawa

Kain Rajutan Khas Banjarmasin Ini jadi Saingan Batik di Tanah Jawa

METROSEMARANG.COM – Indonesia tak melulu batik. Hal itulah yang ingin ditekankan oleh para pedagang asal Banjarmain Kalsel kala ikut pameran handycraft di Java Mall Semarang, Jumat (4/11).

Datang jauh-jauh dan tak mau pulang dengan tangan hampa, mereka pun membawa ratusan lembar kain sasirangan, kain yang disebut-sebut punya karya seni tertinggi di Tanah Banjar. Ansyari, Kabid Perindustrian Disperindag Kota Banjarmasin yang memandu para pengunjung pameran mengatakan, sasirangan kaya akan seni dan tradisi Banjar.

Kain Sasaringan khas Banjarmasin turut dipamerkan di Java Mall Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Kain Sasaringan khas Banjarmasin turut dipamerkan di Java Mall Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Tempo dulu sasirangan dipakai masyarakat di bibir Sungai Martapura untuk penutup tubuh tatkala sedang terserang penyakit demam dan diare. Berawal dari tradisi pengobatan bagi masyatakat sungai itulah, kain rajutan yang punya nilai seni setara dengan batik lalu berubah jadi salah satu aksesoris pakaian adat lokal.

“Setelah dimodifikasi dengan unsur-unsur seni yang tinggi, maka kain sasirangan kami jual di Banjar. Animo masyarakatnya ternyata sangat bagus. Kemudian kami jual lagi ke luar Kalimantan, dan banyak peminatnya. Makanya, untuk tahun ini kami merambah pangsa pasar di Jawa yang katanya didominasi batik, kami ingin menyaingi batik,” katanya di lokasi pameran.

Di pusat Kota Banjarmasin sendiri, kini terdapat 40 sentra perajin sasirangan. Tiap perajin umumnya menjualnya seharga Rp 25 ribu-Rp 2 juta. “Karena tingkat kesulitannya maka itu harganya mahal. Ini sama dengan batik yang dibuat dengan canting harganya juga mahal,” jelas Ansyari.

Ada sebanyak 14 motif kain sasirangan yang diperkenalkan publik Semarang saat pameran berlangsung. Mulai motif putri menangis, daun darijo, kertas hingga daun manggis mungkin masih asing ditelinga warga Ibukota Jateng.

Tapi menurutnya, kain sasirangan kini telah merambah pasar ekspor Malaysia dan Singapura. “Di Semarang kita jual 100 kain dan saya yakin diburu pembeli sampai penutupan pameran,” tukasnya. (far)