Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Kamis, PSIS akan Jalani Investigasi Lanjutan

Kamis, PSIS akan Jalani Investigasi Lanjutan

image

SEMARANG – PSIS akan menjalani investigasi lanjutan terkait drama lima gol bunuh diri saat melawan PSS Sleman, 26 Oktober silam. Rencananya, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bakal meminta klarifikasi terhadap seluruh pemain Mahesa Jenar yang terlibat di pertandingan itu plus ofisial tim pada Kamis (6/11) mendatang.

Pemanggilan ini adalah kali kedua setelah Komdis juga meminta keterangan pelatih, manajer tim dan tiga pemain PSIS dalam sidang pertama yang digelar Selasa (28/10). Saat itu Komdis yang diketuai Hinca Panjaitan menjatuhkan sanksi diskualifikasi terhadap PSS dan PSIS dari babak 8 besar Divisi Utama.

General Manager PSIS Kairul Anwar menjelaskan, pada investigasi lanjutan ini kubu Mahesa Jenar mendapat giliran kedua setelah PSS Sleman. “PSS Sleman lebih dulu dipanggil pada Rabu (5/11). Setelah itu, Kamis (6/11) kami yang akan memenuhi panggilan untuk dilakukan investigasi lanjutan,” katanya.

Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu menambahkan, pada pemanggilan kedua ini Komdis ingin meminta klarifikasi dari seluruh pemain yang tercantum dalam line up pertandingan. Selain itu, ofisial tim juga akan dimintai keterangan terkait sepakbola ‘gajah’ yang berlangsung di Stadion Sasana Krida Kompleks AAU Adi Sucipto tersebut.

“Kami akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Tidak ada yang kami tutup-tutupi terkait fakta di lapangan. Semuanya akan kami jelaskan di hadapan Komdis,” lanjut Kairul.

Sanksi yang dijatuhkan Komdis PSSI tersebut mendapat reaksi beragam. Belakangan muncul pendapat bahwa Komdis dinilai arogan dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng meminta Komdis bisa lebih bijak dalam memberikan hukuman. Johar juga mempertanyakan alasan Komdis meniadakan banding terhadap putusan yang dibuat.

Menurutnya, sanksi diskualifikasi tersebut termasuk kategori hukuman berat, sehingga klub atau pemain harus diberi kesempatan banding. “Klub dan pemain berhak untuk mencari keadilan. Komdis harus lebih bijak,” tandasnya. (*)