Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Kartunis Semarang Ramaikan Festival Perdamaian di UIN Walisongo

Kartunis Semarang Ramaikan Festival Perdamaian di UIN Walisongo

METROSEMARANG.COM – Taman Revolusi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) kampus II UIN Walisongo Semarang mendadak ramai dipenuhi ratusan mahasiswa, Rabu (7/9). Usut punya usut di lokasi tersebut tengah berlangsung Festival Perdamaian yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) FITK.

Festival Perdamaian di Taman Revolusi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) kampus II UIN Walisongo Semarang, Rabu (7/9). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Festival Perdamaian di Taman Revolusi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) kampus II UIN Walisongo Semarang, Rabu (7/9). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Festival perdamaian ini dihelat sebagai bentuk sambutan dari BEM FITK terhadap mahasiswa baru. Aqib Misbahul Munir, ketua panitia acara menuturkan, Festival Perdamaian baru pertama kali dilaksanakan.

“Kami juga ingin mengenalkan wadah-wadah untuk menyalurkan bakat minat mahasiswa melalui penampilan dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di FITK,” kata dia.

Kehadiran empat kartunis papan atas Semarang juga urut meramaikan acara ini. Mereka adalah Djoko Susilo, Kusnan Hoesi, Heru Garsita, dan Arief Srabilor.

Pengunjung bisa dilukis karikatur wajahnya oleh para kartunis tersebut secara gratis. Kesempatan langka itu tak disia-siakan oleh para pengunjung. Terbukti dari banyaknya antrean yang mengerubungi Djoko Susilo dan kawan-kawan.

“Iya pameran karya kartunis ini untuk makin menyemarakkan festival. Festival ini juga sesuai dengan jargon kampus kita, humanisme,” terang Aqib.

Djoko Susilo, seorang karikatur yang kini tinggal di Kendal, mengaku sudah mulai menggambar sejak tahun 70an. Baginya menggambar karikatur wajah tak menghabiskan waktu sampai lima menit.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kusnan Hoesi, kartunis asal Semarang ini bahkan pernah memecahkan rekor menggambar 1.000 gambar dalam waktu 24 jam pada 2004 silam.

“Grogi juga sih, tapi puas setelah lihat hasilnya. Jarang-jarang bisa dilukis oleh kartunis asli Semarang,” papar Dwi Ariani, mahasiswi jurusan Biologi. (vit)