Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Kasus Intoleran Kian Marak di Jateng

Kasus Intoleran Kian Marak di Jateng

METROSEMARANG.COM – Aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama di Jawa Tengah sepanjang 2016, meningkat pesat dibanding tahun lalu. Bahkan, pihak kepolisian menyatakan beberapa kasus dilakukan oleh massa Front Pembela Islam (FPI).

Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono memeriksa patung yang dirusak di Gereja Santo Yusuf Pekerja, Dukuh Minggiran, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Foto: dok Polda Jateng

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengatakan sedikitnya terdapat sembilan kasus intoleran yang muncul selama Januari hingga menjelang tutup tahun 2016.

Kasus-kasus yang menyita perhatian publik, kata Condro yaitu tindakan perusakan rumah ibadah di Kabupaten Klaten pada pertengahan Maret, aksi menolak sebuah gerakan aliran kepercayaan di Rembang, aksi pengusiran mantan Ibu Negara Shinta Nuriyah yang menggelar buka puasa bersama di Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran saat bulan puasa Agustus, sebuah kasus intoleran lainnya juga muncul di Klaten.

Kemudian, terdapat kasus pencurian alat ibadah di Gereja Kleco Kartasura. “Yang satu ini pelakunya kedapatan stres berat,” kata Condro di hadapan awak media, Jumat (30/12).

Lebih lanjut, ia membeberkan masih ada kasus kristenisasi yang muncul di Kecamatan Pracimantoro Wonogiri, kasus pembakaran Alquran di Kelurahan Sumber Solo. “Untuk pelaku pembakaran Alquran sekarang sudah disidik,” jelasnya.

Selanjutnya ada aksi perusakan patung Bunda Maria di Klaten tapi modusnya karena pelakunya sakit hati seusai orangtuanya diusir dari gereja, sweeping perayaan Asyura Syiah Jalan Layur Semarang oleh massa yang dipimpin FPI, sweeping topi Sinterklas oleh ormas FPI di Sragen, dan yang terbaru ialah sweeping ormas radikal LUIS di Solo Kichten.

“Kasus yang terakhir tersebut masih kita usut sampai sekarang. Kita sudah menangkap komandan LUIS termasuk Ranu Trinugroho karena perannya tahu rencana aksi kejahatan, dengan mendokumentasikannya mulai awal sampai lokasi kejadian,” katanya.

“Padahal, jika dia tahu ada rencana jahat seharusnya dicegah tapi dia malah membiarkan dan mengikutinya,” imbuhnya.

Kasus sweeping Solo Kitchen ini terus berbuntut panjang dengan penangkapan jaringan ormas radikal LUIS lainnya.

Di sisi lain, di Jawa Tengah juga bermunculan kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan dan anak seperti di Pemalang, Batang, Semarang, Kabupaten Semarang dan Klaten. “Itu gangguan yang menonjol selama 2016,” pungkasnya. (far)