Home > METRO BERITA > Kasus Siswa Penganut Kepercayaan Tak Kunjung Tuntas, Ini Alasannya

Kasus Siswa Penganut Kepercayaan Tak Kunjung Tuntas, Ini Alasannya

METROSEMARANG.COM – Perjalanan kasus ZNR seorang siswa penganut kepercayaan masih terus bergulir. Mediasi yang digelar di Gedung A Lantai 2 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Rabu (3/8) siang, mengurai sejumlah fakta terkait siswa kelas XI SMKN Negeri 7 Semarang tersebut.

Proses mediasi di Kantor Disdik Jateng, Rabu (3/8). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Proses mediasi di Kantor Disdik Jateng, Rabu (3/8). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Berdasarkan penuturan Gunaldi, seorang pemuka Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika diketahui bahwa terdapat perbedaan pandangan antara ZNR dengan pihak sekolah. Menurut pengakuan ZNR kepada dirinya, siswa tersebut siap mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

“Ia siap, asal jangan praktik, karena menurutnya kalau salat maka ia masuk Islam karena ada bacaan syahadat di sana,” ungkap Gunaldi.

“Ia sampai mengatakan apakah ada yang siap menanggung dosanya kalau ia salat? Karena ia merasa berdosa ketika melakukan hal itu,” imbuh Gunaldi.

Namun, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, Achmad Zaid punya pendapat berbeda. Menurutnya, mengucapkan kalimat syahadat tidak serta merta menjadikan seseorang menjadi Islam. “Bersyahadat harus ada saksi dan yang mensyahadatkan,” tegas Zaid.

Dia menyayangkan sikap orangtua ZNR yang tidak memberikan penjelasan dan pengertian bahwa pelajaran agama bukan untuk membuat siswa menjadi beragama. Jika itu dilakukan, dia yakin masalahnya tidak akan berlarut-larut.

“Saya tahu ZNR pasti tertekan, maka ini hanya masalah pandangan saja. ZNR merasa pelajaran agama itu untuk beragama sementara pihak sekolah mengarahkan bahwa pelajaran agama sama seperti pelajaran lain,” pungkas Zaid.

Pihak sekolah tetap bersikeras tidak bisa mengabulkan keinginan ZNR naik kelas. Regulasi memang mewajibkan siswa untuk mengikuti seluruh materi sesuai kurikulum sebagai persyaratan kenaikan kelas. Sedangkan, ZNR tidak mendapat nilai Pendidikan Agama Islam (PAI) karena dia menolak menjalankan praktik salat. (vit)