Kaum Difabel Selamatkan Diri dari Goncangan Gempa Bumi

METROSEMARANG.COM – Rini Winarni tergopoh-gopoh naik kursi roda saat keluar dari Kantor Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu siang (26/4). Suara sirine yang meraung-raung membuat puluhan pegawai negeri berhamburan keluar gedung.

Simulasi penanggulangan bencana di Kantor Gubernur Jateng, Rabu (26/4). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Dengan dibantu beberapa temannya, Rini bahkan bergegas menuruni ram yang ada di depan pintu kantor gubernur.

Banyak pegawai negeri sipil yang berkantor di situ juga mengikutinya dari belakang. Mereka tampak berbondong-bondong ikut simulasi penanggulangan bencana gempa bumi sembari dengan melindungi kepalanya memakai kedua tangan.

“Sedikit takut karena saat keluar gedung, turunan ramnya curam sekali, tadi dibantu dua teman saya, Mas,” aku Rini kepada metrosemarang.com saat di halaman Gedung Gradika.

Ia yang jadi Ketua Himpunan Wanita Difabel Indonesia (HWDI) Jateng itu mengaku, akses turunan yang tajam sempat membuatnya was-was. Padahal, gempa bumi tak bisa diprediksi terjadi kapan dan dimana saja. Dengan kondisi jalur khusus disabilitas yang kurang memadai, katanya justru membahayakan keselamatan kaum difabel seperti dirinya.

“Saya baru dua kali ikut simulasi penanggulangan bencana dan pertama kali ikut di dalam gedung. Ini saya kira sangat membantu masyarakat agar memahami aksi penyelamatan diri dari bencana alam,” tutur warga Jalan Wonodri Semarang tersebut.

Tak hanya itu saja. Ada pula tiga pegawai negeri lainnya yang ikut simulasi penanggulangan bencana dari atap gedung. Petugas gabungan Basarnas membantu mereka satu persatu menuruni gedung menggunakan seutas tali. Dua ambulans yang berada dibawahnya kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat.

Budi Widodo, Asisten Administrasi Setda Pemprov Jateng mengatakan simulasi penanggulangan bencana memang perlu dilakukan demi meningkatkan kesiapsiagaan warganya. Ia menyebut tiap tahun kejadian bencana alam terus-menerus meningkat seiring dengan perubahan iklim yang diperparah dengan pola hidup masyarakat yang semakin buruk.

Untuk 2016 saja, menurutnya terdapat 2.318 bencana alam yang muncul di 35 kabupaten/kota. Akibatnya, 512 nyawa manusia melayang sia-sia dan masih banyak lagi yang menderita karena kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya.

“Jawa Tengah jadi daerah rentan gempa bumi dan banjir. Makanya, kita tahun ini menggencarkan simulasi untuk memberi contoh kepada warga bagaimana caranya menyelamatkan diri dari dalam rumah dan gedung,” terangnya.

Budi mengimbau kepada warganya supaya mewaspadai potensi bencana di tiap daerah. Bila ada gempa bumi, ia menyarankan tiap warga harus langsung keluar dari gedung dengan melindungi kepalanya.

“Sehingga kita bisa menekan kerugian yang muncul akibat datangnya musibah gempa bumi,” bebernya.

Sedangkan, aksi simulasi penanggulangan bencana hari ini berbarengan dengan peringatan 10 tahun Hari Kesiapsiagaan Nasional.

Sarwa Pramana, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk menetapkan tanggal 26 April jadi Hari Kesiapsiagaan Nasional mulai 2018 mendatang. (far)

You might also like

Comments are closed.