Home > METRO BERITA > Fokus Metro Semarang > Kecelakaan BRT di Papandayan, Pakar: Keterlaluan!

Kecelakaan BRT di Papandayan, Pakar: Keterlaluan!

METROSEMARANG.COM – Insiden kecelakaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang membuat Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno angkat bicara. Pasalnya, BRT diadakan lantaran ingin dibedakan sisi kualitas dan keamanan serta kenyamanan dengan angkutan lain yang tidak bersubsidi.

Kecelakaan BRT di Papandayan, Minggu (17/7). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Kecelakaan BRT di Papandayan, Minggu (17/7). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Djoko meminta untuk diturunkan tim investigasi terkait kejadian pada Minggu (17/7) lalu di Papandayan agar tak terulang lagi. Dia mencurigai adanya pengelolaan BRT yang tidak benar.

“Kalau rem BRT bisa blong, ada kemungkinan terjadi korupsi dalam pengelolaan. Sudah disubsidi tetapi dikelola dengan asal-asalan. Keterlaluan!” kata dia geram, Senin (18/7).

Djoko menambahkan perlu adanya jaminan keamanan agar warga tak was-was menggunakan alat transportasi yang digadang-gadang sebagai transportasi andalan Kota Semarang.

“Pengawasan terhadap pengelolaan BRT juga sangat lemah. Harus diganti dengan manajemen atau operator yang lebih baik dan diusut tuntas,” tuturnya.

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 10.30 itu diduga karena sopir bus tak mampu mengendalikan laju busnya yang kencang dari arah Akpol menuju halte Kagok.

Bus yang hilang kendali lalu menyerempet mobil Yarris yang diparkir di depan halte. Lalu, sopir yang kaget banting setir ke kiri hingga menabrak empat motor sekaligus di pangkalan ojek yang penuh orang.

Akibatnya, sebanyak 24 orang mengalami luka-luka. Korban yang didominasi perempuan tersebut harus mendapatkan perawatan di RS Elizabeth.

Informasi yang berkembang, kecelakaan diduga kuat dipicu bus yang tak laik jalan. Pasalnya, dokumen uji KIR milik bus tersebut telat setahun dari masa uji yang ditentukan. (ade/far)