Home > METRO BERITA > Keris Peninggalan Panembahan Senopati Muncul di Semarang

Keris Peninggalan Panembahan Senopati Muncul di Semarang

METROSEMARANG.COM – Sebuah keris milik Panembahan Senopati yang pernah memimpin Kerajaan Mataram kuno di tanah Jawa secara mendadak muncul di tengah kota Semarang. Keris yang terbuat dari bebatuan meteor tersebut saat ini dipamerkan di pelataran Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Sejak Sabtu 22 Oktober-Minggu 23 Oktober.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Kristanto, seorang kolektor keris mengaku mendapat pusaka berusia 400 tahun itu dari seorang temannya. Keris itu, kata dia memang memiliki pamor yang kuat mengingat dahulu kala sempat dipakai sang raja untuk memimpin Kerajaan Mataram.

“Keris ini saya pamerkan bersama pusaka lainnya peninggalan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV dan V di Keraton Surakarta, Kerajaan Majapahit dan Pajajaran di Jawa Barat. Selain itu juga ada pedang, tombak, kujang peninggalan raja di luar Jawa,” katanya saat ditemui di sela Festival Suro di TBRS, Minggu siang (23/10).

Ia mengungkapkan terdapat sedikitnya 25 pusaka bernilai jual tinggi yang kini dipamerkan di TBRS. Jika ditaksir harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Keris warisan Penambahan Senopati tersebut menjadi daya pikat utama pengunjung festival, selain bentuk lekukannya yang unik, sejarah panjang keris itu juga membuat penasaran pengunjung.

Ia mengaku akan memanfaatkan ruang pamer di Festival Suro sebagai ajang melestarikan keris sebagai warisan adiluhung dunia. Tak hanya itu saja, lanjutnya. Hal itu juga untuk memperkenalkan tiap benda pusaka yang selama ini tersimpan di dalam keraton.

“Ini juga jadi ajang pertemuan dengan para kolektor benda pusaka yang ada di seluruh Indonesia,” sambungnya.

Sementara panitia acara festival menyebut ada 10 kolektor pusaka yang berpartisipasi dalam gelaran budaya kali ini.

Rifad Petir, anggota Komunitas Tembang Jiwo Jawa Tengah ingin mempertemukan semua seniman dan kolektor agar dapat mempererat kerjasama di bidang pergelaran seni dan budaya.

“Makanya, kita pertemukan semua seniman mulai penyair, monolog, kreator musik, sastrawan hingga sineas muda agar mampu membangun komunikasi antara generasi tua dan muda. Saya ingin menghidupkan acara seni di Semarang,” ujar Rifad.

Festival Suro nanti malam juga menampilkan monolog dari seniman kondang Eko Tunas untuk menghibur para pengunjung yang hadir di puncak acara. “Semua seniman dari Bali, Jakarta, Bandung, Garut sampai Jawa Timur kita undang ke sini biar meriah,” paparnya.

Ini merupakan langkah awal dari Tembang Jiwa untuk menggelar pertunjukan seni berskala internasional tiap setahun sekali. “Karena sudah saatnya seniman kita tampil hingga mendunia,” tukasnya. (far)