Home > METRO BERITA > Ketika Siswa Aliran Penghayat Itu Akhirnya Kembali Bersekolah

Ketika Siswa Aliran Penghayat Itu Akhirnya Kembali Bersekolah

METROSEMARANG.COM – Seorang siswa kelas penganut aliran penghayat pada Rabu (31/8), kembali bersekolah di SMKN 7 Semarang setelah sebelumnya menuai polemik di tengah masyarakat. Siswa berinisial ZNR itu tak hanya masuk sekolah biasa. Ia yang sempat terancam tinggal kelas, mulai hari ini juga dipastikan naik kelas.

Zulfa (kiri) akhirnya kembali masuk sekolah, Rabu (31/8). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Zulfa (kiri) akhirnya kembali masuk sekolah, Rabu (31/8). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Proses panjang untuk menuntaskan polemik siswa penganut aliran penghayat itu akhirnya berada di tangan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Hendi, sapaannya telah sepakat dengan pihak sekolah untuk menaikan ZNR menjadi siswa Kelas XII di jurusan Mekatronika.

Susilowati, ibunda ZNR pun tak kuasa menahan haru tatkala anaknya kembali bersekolah. “Saya lega sekali karena dia bisa sekolah lagi,” kata Susilowati kepada¬†metrosemarang.com usai mengantar anaknya di pintu gerbang sekolah.

Ia tak menyangka anaknya bertekad kembali bersekolah, walaupun sebelumnya sempat bermasalah dengan pihak sekolahnya. Anaknya tadi pagi berangkat naik sepeda kayuh dari rumahnya di Pedurungan pukul 06.00 WIB dan tiba tepat waktu.

“Bilangnya enggak mau diantar sekolah, saya berani. Makanya dia berangkat naik sepeda sendiri,” akunya menirukan perkataan anaknya.

Ia tak khawatir bila anaknya ketinggalan pelajaran setelah beberapa waktu lalu memutuskan berhenti sekolah. Hal itu, menurutnya karena anaknya kurang sepaham dengan apa yang diajarkan oleh guru agama di SMKN 7. “Tapi, dia sudah belajar sedikit-sedikit di rumah jadi ndak ketinggalan pelajaran,” bebernya.

Baginya, ZNR merupakan anak yang cerdas. Pelajaran favoritnya yakni matematika dan elektronika, sesuai jurusan yang ia ambil.

Ia pun berharap kasus yang menimpa anaknya tidak terulang kembali pada masa mendatang. “Mendingan jangan lagi memaksa siswa mengikuti pelajaran agama berdasarkan kurilukum. Sesuaikan saja dengan yang dianut,” pintanya.

Direktur LBH Apik, Soka Handinah Katjasungkana menganggap, apa yang menimpa ZNR merupakan pelajaran berharga bagi para pendidik di Semarang bahwa kasus ini tak hanya soal regulasi, melainkan merubah prespektif pengajar tentang aliran kepercayaan yang menjadi sebuah agama.

“Jangan seolah-olah aliran kepercagaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu bukan agama. Ini artinya, paradikma yang rendah ini harus segera diubah,” katanya.

Untuk saat ini, ia mendorong Pemkot Semarang agar merancang kurikulum tambahan tentang aliran kepercayaan sebagai agama baru. Ia yakin Kota Semarang berani membuat gebrakan tersebut, sehingga nilai-nilai toleransi antar umat beragama tetap terjaga dengan baik.

Dilain pihak, pengurus aliran penghayat menyambut baik penyelesaian kasus ini. Mereka kini menunggu pemerintah pusat mengembalikan marwah Permendikbud yang mengatur tentang pendididikan dan kepercayaan. Hal itu termasuk perubahan kurikulumnya serta tambahan fasilitas yang harus disediakan pihak sekolah.

“Kita sudah bertemu Direktorat Kepercayaan dan Tradisi Kemendikbud dan sekarang tinggal mengimplementasikan aturannya. Semarang, saya yakin bisa buat terobosan baru,” terang Margono, perwakilan aliran penghayat. (far)