Home > METRO BERITA > Keuskupan Agung Semarang Mengenang ‘Martir’ Tragedi Bom Natal 2000

Keuskupan Agung Semarang Mengenang ‘Martir’ Tragedi Bom Natal 2000

METROSEMARANG.COM – Keuskupan Agung Semarang, hari ini Minggu (25/12), turut merayakan Hari Raya Natal dengan gegap gempita bersama para jemaatnya. Mereka menyebut Natal sebagai hari raya yang penuh cinta kasih dan damai, sekaligus untuk mengenang tragedi bom Gereja Eben Haezer, Mojokerto pada malam Natal 2000 silam.

Pengamanan Misa Natal di Gereja Katedral Semarang, Minggu (25/12). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Tiap menjelang perayaan Natal, saya selalu ingat kisah pengorbanan Riyanto, anggota Barisan Anshor Serbaguna (Banser) Mojokerto. Bagiku, yang seorang Romo Pastor Gereja Katolik, Riyanto tak hanya berkorban namun mengalami kemartiran. Riyanto “martir Natal” 2000,” kenang Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Aloys Budi Purnomo kepada metrosemarang.com.

Romo Budi, begitulah ia akrab disapa menyatakan, tepat dua windu setelah peristiwa tersebut, segenap umat Nasrani patut mengenang dan mendoakan Riyanto saat ibadah Misa Natal 2016.

Pria berusia 25 tahun itu meninggal dengan kondisi jenazah yang sangat mengenaskan. Dan ia adalah anggota Banser NU. Romo Budi menyatakan saat jadi korban bom Natal, mendiang Riyanto sedang ditugaskan GP Anshor membantu polisi melakukan pengamanan 24 Desember 2000.

Ia lalu menceritakan ulang tragedi bom yang membuat masyarakat Indonesia terhenyak pada 16 tahun lalu itu. Saat itu, pukul 20.30 WIB, seorang jemaat Gereja Eben Haezer curiga saat melihat bingkisan yang tergeletak tak bertuan di depan pintu masuk gereja itu.

Mendiang Riyanto, katanya lalu memberanikan diri membuka bingkisan itu. Ia membongkar kantong plastik hitam itu di hadapan petugas pengamanan gereja Eben Haezer lainnya, termasuk seorang polisi Polsek setempat. Di dalamnya tampak menjulur sepasang kabel. Tiba-tiba muncul percikan api. Riyanto langsung berteriak sigap, “Tiaraaaapp!” dan kemudian terjadi kepanikan di dalam Gereja.

Namun dengan sigap, almarhum segera melemparkan bungkusan bom itu ke tong sampah, namun terpental. Ia kemudian berinisiatif mengamankan bom dengan memungut kembali untuk dilemparkan ke tempat yang lebih jauh lagi dari jemaat. Namun, justru bom itu meledak di tangan Riyanto sebelum sempat dilemparnya.

Tubuh pria itu terpental, berhamburan. Sekitar tiga jam kemudian, sisa-sisa tubuhnya baru ditemukan di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. ‘Jari dan wajahnya hancur,” kata Romo Budi.

“Darahnya tercurah. Tubuhnya hancur. Di malam Natal tahun 2000, 16 tahun silam,” imbuhnya lagi.

Di Mojokerto Riyanto kini masih dikenang. Bahkan, nama almarhum telah dibuat sebagai nama jalan di Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Sosok almarhum di matanya memang istimewa. Almarhum sebagai pria Muslim, rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang lain yang sedang merayakan Natal.

“Di tengah maraknya aksi kekerasan seperti saat ini, sosok almarhum pantas menjadi teladan, tanpa membedakan agama dan kepercayaan, suku, ras maupun golongan. Mari kita kenang almarhum sebagai ‘martir Natal’, untuk membangkitkan semangat dan sikap hormat bagi keberagaman dan kemanusiaan,” bebernya. (far)