Home > EXPLORE SEMARANG > Kisah di Balik Pembuatan Pesawat Capung dari Ban Bekas

Kisah di Balik Pembuatan Pesawat Capung dari Ban Bekas

METROSEMARANG.COM – Hari sudah beranjak siang, tapi Santoso masih termenung di rumahnya sembari menunggu barang dagangannya. Rumahnya di Jalan Noroyono, Bulu Lor RT 01/II Semarang Utara sengaja ia sulap jadi toko ban bekas, sementara bagian belakangnya ditempati keluarganya.

Miniatur pesawat dari ban bekas banyak diminati kolektor dari luar Kota Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Namun siapa sangka, di balik kesibukannya berjualan ban bekas, ia justru kerap terbesit ide-ide cemerlang. Ia awalnya hanya melihat potongan-potongan ban bekas yang berserakan di rumahnya sebagai sampah.

“Tapi setelah saya iseng-iseng menggabung-gabungkan cuilan ban bekas di atas lantai, ternyata terpikirkan ide mengapa enggak sekalian dibuat produk kerajinan saja,” aku pemilik nama lengkap Muhammad Santoso Rahawarin, saat berbincang dengan metrosemarang.com, Minggu (19/2).

Awalnya sebuah lukisan bergambar tokoh punakawan Bagong, berhasil ia ciptakan. Lalu, lambat-laun punakawan-punakawan lainnya pun bermunculan dari balik kemahiran tangannya.

“Saya buat pertama kali 2014 kemarin. Tapi masih iseng-iseng buat lukisan. Hingga sekarang saya telah membuat sebuah pesawat capung karena terinspirasi film perang di televisi,” ungkap pria berdarah Ambon dan Jawa tersebut.

Pesawat buatannya tentunya berukuran kecil. Tapi jangan salah, setiap detail bentuknya dibuat sama persis dari aslinya. Biasanya dua minggu dia membuat pola-pola khusus agar dapat dirangkai menjadi sebuah pesawat.

Cara pembuatannya ternyata cukup gampang. Lembaran ban bekas dipotong kecil-kecil lalu dibentuk pola bodi pesawat dan. Setelah itu, direkatkan dengan lem.

“Ada dua yang sudah jadi dan ternyata peminatnya sangat banyak,” kata Santoso seraya menunjukkan pesawat buatannya.

Tingkat kesulitan tentunya membuat harga jualnya beragam. Sebuah pesawat biasanya ia jual di bawah Rp 100 ribu. Untuk mempercantik bodi pesawat, ia poles dengan cairan sisa oli roda sepeda.

Tahun berganti tahun. Gayung pun bersambut tatkala seorang rekannya mengajaknya ikut pameran industri mikro di beberapa tempat. Sadar bahwa produknya harus diperbanyak, maka ia memproduksi banyak kerajinan dari ban bekas.

“Sampai sekarang ada puluhan bahkan ratusan kerajinan yang saya buat, kebanyakan jadi gantungan kunci, hiasan meja, lukisan serta robot Transformers yang dibanderol seharga Rp 300 ribu,” terangnya.

Kini banyak orang memburu produknya. Ia mengakui bila kerajinannya terbilang awet dan tahan hujan. “Saya membuatnya spontan dan kalau ada pesenan baru dibikin,” tuturnya.

Ke depan, ia bakal memperbanyak keikutsertaannya dalam pameran-pameran industri mikro supaya hasil karyanya dikenal masyarakat luas. “Saya pasti ikut pameran mulai kemarin di Kandri atau di mal-mal,” tukasnya. (far)