Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Kisah Fans Cilik PSIS Bertemu Sang Idola

Kisah Fans Cilik PSIS Bertemu Sang Idola

METROSEMARANG.COM – Seorang gadis kecil tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam lorong Stadion Jatidiri, selepas Eko Riyadi membubarkan latihan PSIS, Selasa (27/9) sore. Dia langsung mendekati Johan Yoga Utama dan memohon striker jangkung itu membungkukkan badan agar mulut mungilnya bisa menggapai telinga sang idola. Entah apa yang dia bisikkan, tapi ada senyum kepuasan tatkala Johan menganggukkan kepala sembari mengacungkan ibu jarinya.

Chaca bersama tiga pemain idolanya. Foto: metrosemarang.com/dokumentasi pribadi
Chaca bersama tiga pemain idolanya. Foto: metrosemarang.com/dokumentasi pribadi

Pemandangan tak biasa ini menjadi bumbu manis di tengah persiapan skuat Mahesa Jenar melakoni laga perdana babak 16 besar Indonesia Soccer Championship (ISC) B di kandang PSPS Pekanbaru, Minggu (2/10) mendatang.

Fans cilik bernama Alisa Putri Kayana itu datang bersama kedua orangtuanya, Heru Trimaryono (40) dan Vina. Sambil bergelayut di besi pembatas tribun, matanya tak pernah lepas dari tengah lapangan, di mana Fauzan Fajri cs berlatih.

Menonton aktivitas latihan PSIS rupa-rupanya telah menjadi rutinitas gadis kecil berusia 9 tahun tersebut. Sehari sebelumnya, dia bahkan jauh-jauh datang dari rumahnya di Ungaran Timur mendatangi mes PSIS di Jalan Semeru Dalam, Karangrejo, Semarang untuk sekadar memberikan bingkisan kepada pemain idolanya.

Perkenalan Chaca, begitu dia disapa, dengan dunia sepakbola ternyata menurun dari sang ayah. Semua berawal saat keluarga kecil itu secara tak sengaja bertemu dengan gelandang PSIS Feri Ariawan di Stasiun Tawang, beberapa bulan silam.

Foto: dokumentasi pribadi
Foto: dokumentasi pribadi

“Setelah itu saya ajak nonton ke stadion saat PSIS lawan Persibat Batang. Ternyata Chaca malah ketagihan, dan selalu ingin menonton setiap pertandingan maupun saat PSIS latihan,” kata Heru yang juga mengaku sebagai fans berat Mahesa Jenar sejak duduk di bangku kuliah, pertengahan 90-an silam.

Pria berbadan subur itu juga tak pernah ‘mencekoki’ putri tunggalnya dengan urusan sepakbola. Dia pun sengaja membiarkan Chaca sendirian saat berinteraksi dengan pemain-pemain PSIS.

“Era saya sudah berakhir dan saya ingin melatih keberanian Chaca untuk bertemu langsung dengan idolanya,” beber Heru sambil tersenyum.

Chaca sendiri terlihat enjoy ketika menyapa Johan cs. Ada keakraban yang sudah terjalin, meskipun bocah kelas 3 SD Kalirejo 2 Ungaran itu baru beberapa bulan mengenal PSIS.

Dia juga sangat fasih saat menyebut nama-nama anak asuh Eko Riyadi. Tapi, ada tiga pemain spesial yang menjadi idolanya. “Om Johan, Om Fauzan dan Om Feri,” ujarnya polos.

Chaca pun berharap tim kebanggaannya bisa menjadi kampiun ISC. “Maunya PSIS menang terus biar jadi juara,” kata dia.

Foto: dokumentasi pribadi
Foto: dokumentasi pribadi

Keinginan Chaca seolah mewakili harapan ribuan fans PSIS yang sudah sekian lama merindukan hadirnya prestasi. Sudah hampir dua dekade sejak 1999 publik Semarang rindu arak-arakan trofi yang menjadi simbol sebuah kejayaan.

Harapan tersebut coba diwujudkan musim ini. Sekalipun hanya level turnamen, trofi ISC setidaknya bisa mengobati dahaga prestasi sebelum mencapai target berikutnya: keluar dari zona Divisi Utama dan promosi ke kasta tertinggi sepakbola nasional.

“Chaca memberi bukti bahwa PSIS dicintai seluruh lapisan masyarakat. Mudah-mudahan dukungan suporter dan seluruh masyarakat Semarang bisa menjadi spirit bagi kami untuk mencapai prestasi tertinggi,” tutur top skor PSIS, Johan Yoga Utama. (twy)