Home > Berita Pilihan > Kisah Getir Broto, Sopir Nyonya Meneer Terlunta-lunta di Hari Tua

Kisah Getir Broto, Sopir Nyonya Meneer Terlunta-lunta di Hari Tua

METROSEMARANG.COM – Isubroto hanya tertegun saat berada di serambi rumahnya, di Kampung Manis Hardjo Rejomulyo Semarang Timur, pada Sabtu sore (5/8). Setiap hari dia lebih banyak menganggur ketimbang beraktivitas keluar rumah.

Isubroto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Ya mau gimana lagi saya sempat baca koran kalau pabrik Nyonya Meneer kan sudah pailit. Sekarang hanya bisa pasrah, enggak bisa berbuat apa-apa lagi,” cetusnya saat¬†metrosemarang.com¬†menyambangi rumahnya.

Broto, begitulah ia akrab disapa mengatakan sudah 25 tahun bekerja di pabrik Nyonya Meneer. Sejak 1991 silam, ia mengatakan mengawali karirnya sebagai sopir mobil para karyawan pabrik jamu tersebut.

Ia menyampaikan sempat merasakan kejayaan Nyonya Meneer sebagai pabrik jamu tertua di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. Jumlah pegawainya pun masih relatif banyak.

“Dulu itu sangat banyak karyawannya. Sebulan saya dapat gaji Rp 60 ribu, upah yang sangat besar waktu itu karena bisa menaikkan derajat saya di mata masyarakat sekitar,” kata pria 62 tahun ini.

Broto mengatakan hari-harinya yang meraih kesuksesan kemudian berubah drastis ketika bisnis pabrik jamu tersebut mulai goyah. Ia menyebut Nyonya Meneer diambang kehancuran saat memasuki awal tahun 2000 silam.

Sejak saat itu, aktivitas produksinya mulai tidak stabil. Broto mengaku harus melalui berbagai kesulitan keuangan bersama ratusan buruh lainnya saat bekerja di Nyonya Meneer.

“Ya begitulah. Kondisinya selalu naik turun. Pas saya sudah dianggap melewati batas usia bekerja, saya malah enggak dapat uang pensiunan,” katanya sembari menambahkan jika uang pensiunan yang jadi haknya sebesar Rp 63 Juta.

“Tetapi perusahaan enggak pernah ngasih, Mas. Dan ternyata enggak cuma saya saja, banyak sekali teman yang bernasib serupa. Berulang kali ditagih, enggak pernah ngasih,” akunya.

Hingga pada akhirnya, ia harus melewati masa tuanya dengan penuh kegundahan. Selain tidak diberi hak yang layak, nasibnya pun terkatung-katung.

Jika pagi hari, ia sesekali mengisi waktu luangnya dengan menerima orderan sebagai sopir freelance.

“Buat menyambung hidup, saya jadi sopir lepas. Bayarannya Rp 100 Ribu. Kadang-kadang pihak Nyonya Meneer datang kemari untuk diminta mengantar pegawainya pulang, sempat juga mengantar ke rumah bosnya di Bukit Sari,” katanya sembari menghela napas panjang.

Ia berharap Nyonya Meneer memberikan hak-haknya selama jadi pegawai puluhan tahun. Sebab, dengan kondisi yang sudah dipailitkan berdampak pula pada nasib buruh lainnya yang tak jelas. (far)