Kisah Mata-mata PD I Tampilkan Tarian Jawa di Gedung Opera Schouwburg

PARASNYA yang cantik mampu memikat para penonton yang memadati Gedung Opera Schouwburg di kawasan Kota Lama, Semarang. Setidaknya, menurut Yongkie Tio, seorang sejarahwan di Kota Semarang, Margarethe Gertruida Macleod, nama penari tersebut begitu menjiwai saat menunjukkan tarian Serimpi kepada publik.

Penampakan Gedung Marabunta yang menyimpan peninggalan Margarethe selama di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Ia yang telah memelajari studi kehidupan orang-orang Belanda di Semarang sejak puluhan tahun silam mengatakan Margarethe mempelajari tarian Jawa di beberapa daerah. Margarethe Gertruide Zelle, nama aslinya lahir di Leeuwarden, Belanda.

Saat menapaki usia 19 tahun, tepatnya di tahun 1895, Yongkie mengatakan Margarethe sempat menikah dengan Rudolph Macleod seorang perwira militer Belanda yang bertugas di Indonesia.

Keduanya kemudian diboyong ke
Indonesia dan pertama kali tinggal di Semarang. Di situlah, Margarethe suka bermain ke Candi Jago dan Ambarawa sehingga mengagumi tarian Serimpi. Margareta sering curi-curi waktu dengan belajar menari di sana.

“Tidak heran jika dia memukau para penonton ketika menari di Gedung Stoberg. Parasnya cantik karena dia berdarah Belanda,” ungkap Yongkie saat berbincang dengan metrosemarang.com, Selasa (23/1).

Walau begitu, perjalanan hidup Margarethe berubah drastis tatkala ikut pindah bersama suaminya di Eropa. Sekitar awal 1902, Margarethe dan Rudolf kembali ke Belanda namun pernikahannya berakhir dengan perceraian.

Keahliannya di dunia seni tari membuatnya berniat untuk bekerja menjadi penari klub malam di Perancis. Berulang kali Margarethe menari telanjang di hadapan publik.

Dia mencoba menari sebisanya bergaya tarian Jawa. Pakaianpun dia variasi sendiri. Dia menari dan berpakaian khas ketimuran.

Setelah itu, Margarethe dimanfaatkan agen rahasia untuk jadi mata-mata saat Perang Dunia I meletus.

Saat Perang Dunia I meletus, Margarethe mengganti namanya jadi Matahari. Dia menyamarkan diri karena menjadi mata-mata tentara di Eropa. Namanya sangat terkenal dengan julukan spionase Matahari sampai akhir hayatnya.

“Yang pasti, dia pintar sekali menari Jawa. Bahkan, kemampuannya itu ia jadikan untuk mencari uang sebagai penari erotis di klub-klub malam Eropa,” tambahnya.

Alexandra Tri Tantya, pengelola Marabunta saat ditemui terpisah mengaku Gedung Schouwburg yang ada tepat di samping Marabunta kini nyaris roboh. Sisa peninggalan gedung tersebut pada 1956 silam telah dipindahkan ke Marabunta.

Interior yang dipertahankan berupa atap bangunan dari kayu jati dengan bentuk melengkung.

“Dari sisi ornamennya ndak pernah berubah paling hanya ditembel biar enggak keropos. Dulunya semua ornamen interiornya berasal dari gedung opera Schouwburg samping Marabunta yang sekaran sudah roboh,” sergahnya. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.