Home > Berita Pilihan > Kisah Nabi Nuh di Balik Kemunculan Masjid Kapal di Semarang

Kisah Nabi Nuh di Balik Kemunculan Masjid Kapal di Semarang

METROSEMARANG.COM – Berada puluhan kilometer dari pusat Kota Semarang, Kampung Pandaan di Kelurahan Podorejo Ngaliyan menawarkan pemandangan menakjubkan. Lokasinya nun jauh dari hiruk-pikuk modernisasi. Hamparan sawah yang luas menambah kesejukan udara di kampung tersebut.

Masjid Safinatul Najah di Kampung Pandaan Ngaliyan menyerupai bentuk kapal. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Saat metrosemarang.com menyusuri Kampung Pandaan pada Kamis sore (9/3), penduduk setempat tengah meladang di sawah-sawah. Namun siapa sangka di luar aktivitasnya sehari-hari, warga setempat ternyata tengah disibukkan dengan pembuatan masjid dengan bentuk tak lazim. Safinatul Najah, nama masjid tersebut sedang dibangun warga sejak dua tahun terakhir.

Di atas lahan 2.000 meter persegi, warga sibuk menyemen tembok masjid yang sekilas berbentuk bahtera raksasa. Sujadi, warga RT 04/RW V, Kampung Pandaan mengaku sejak dibangun 2015 kemarin, Masjid Safinatul Najah saat ini hampir jadi.

“Biaya untuk mendirikan masjid ini mencapai Rp 5,5 miliar,” kata pria yang membantu pembangunan masjid tersebut.

Sujadi bilang Masjid Safinatul Najah yang berbentuk menyerupai kapal dibangun atas keinginan saudagar keturunan Arab bernama Muhammad Munawar. Sang saudagar rupanya tebersit ide untuk membangun masjid kapal setelah menjalin kerjasama dengan ulama besar asal Arab Saudi.

“Sebelum wafat, ulama dari Arab Saudi berwasiat ingin membangun masjid berbentuk kapal di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Tapi karena butuh dana sangat besar, maka beliau memutuskan membuat masjidnya di Semarang. Lagipula harga tanah di Kampung Pandaan relatif terjangkau,” akunya.

Kini pembangunan Masjid Safinatul Najah sudah mencapai 80 persen. Meski begitu, pengelola masjid mengaku belum tahu sampai kapan proyeknya selesai.

Masjid Safinatul Najah dibangun tiga lantai. Pada lantai dasar akan dimanfaatkan sebagai balai pertemuan sedangkan dua lantai di atasnya sebagai ruang salat yang mampu menampung lebih dari 500 jamaah.

“Untuk sementara ini baru bisa dipakai salat. Fasilitas lainnya seperti klinik kesehatan dan fasilitas umum lainnya segera menyusul,” sahut Muhammad Barabar, tenaga pengawas proyek masjid.

Menurut Barabar, pembuatan Masjid Safinatul Najah terinspirasi dari kisah Nabi Nuh As tatkala diperintahkan Allah SWT untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari bencana banjir bandang.

Nuh Alahisallam sempat berkata ‘Barang siapa yang naik ke kapalku, maka dialah yang selamat di muka Bumi’.

“Karena itulah, masjid ini dibuat menyerupai bahtera kapal Nuh. Arsiteknya didatangkan langsung dari Kota Islamabad Pakistan. Kita kebut proyeknya siang-malam. Sungguh luar biasa mengingat tenaga untuk mengerjakan proyek ini bisa dibilang sangat terbatas,” ujarnya.

Bila melongok ke dalam, interior masjid memadukan gaya khas dataran Timur Tengah dengan desain lokal. Pada kuncup kubahnya, arsitek masjid memberinya warna hijau tua, ia terinspirasi pada kuncup Nabawi di Tanah Makkah.

Bila tak ada aral melintang, penampilan Masjid Safinatul diperkirakan mampu menyedot ratusan bahkan ribuan pasang mata. Pemerintah Provinsi Jateng akan meresmikan masjid tersebut.

“Kami sedang membuatkan kolam yang mengelilingi bangunannya. Biar tampak kapal yang mengambang di air,” katanya sambil tertawa lebar. (far)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link