Home > Berita Pilihan > Kisah Nyoto, ‘Dewa Penolong’ bagi Para Korban Bencana Alam

Kisah Nyoto, ‘Dewa Penolong’ bagi Para Korban Bencana Alam

MASIH ingat dengan aksi seorang personel Basarnas saat menyelamatkan pria gangguan jiwa di atas penangkal petir? Dialah Nyoto Purwanto.

Saat ditemui metrosemarang.com di kantor Basarnas Kota Semarang, Nyoto tampak duduk terkantuk-kantuk. Sembari menghela napas dalam-dalam, Nyoto mengaku kejadian itu merupakan pengalaman hidupnya tak terlupakan.

Nyoto Purwanto, menantang maut demi nyawa orang lain. Foto: metrosemarang.com
Nyoto Purwanto, menantang maut demi nyawa orang lain. Foto: metrosemarang.com

Nyoto bahkan menyebut aksi penyelamatannya itu benar-benar menantang maut. Betapa tidak, saat itu ia harus memertaruhkan nyawa demi menolong pria gangguan mental yang nekat memanjat penangkal petir setinggi 10 meter di sebuah ruko Jalan Sriwijaya. “Karena bagi saya, orang gila punya hak untuk diselamatkan,” katanya kepada metrosemarang.com, Kamis (3/11).

Nyoto sempat bergidik tatkala melihat medan terjal di atas bangunan penangkal petir. Dengan kondisi atap bangunan sangat sempit dan berhadapan dengan ketinggian 10 meter, membuat nyalinya ciut.

Beruntung, berkat kinerja yang solid ditambah kekompakan tim Basarnas, membuatnya bertekad memanjat gedung hanya bermodalkan tali tambang.

“Begitu dapat laporan pukul 21.30 WIB, saya pikir lebih baik memakai tali pengaman. Lalu saya dan lima teman manjat gedung. Pukul 23.30 WIB di puncak gedung dan butuh dua jam untuk membawanya turun,” ungkap lelaki 36 tahun ini.

Sesuai prosedur yang ada, di atas gedung ia telah mengkaji faktor apa saja yang membahayakan penolong dan korban. “Kita harus lihat kabel listrik di sekitarnya. Setelah korban dipastikan mengalami gangguan jiwa, maka saya memilih untuk tidak banyak bergerak saat ada di atas,” akunya.

Tantangan lain muncul saat korban terus-menerus bergerak agresif. Bak pahlawan laba-laba ‘Spiderman’, korban justru kerap membahayakan nyawanya sendiri tiap bergelantungan di atas penangkal petir.

“Saya was-was selama dia jungkir balik mirip Spiderman karena banyak cahaya yang menyoroti wajahnya dan suara riuh di bawahnya,”.

“Karena itulah, saya akhirnya menggunakan beberapa trik untuk memancing korban agar turun dari penangkal petir dulu,” kata pria bertubuh tambun ini.

Aksi Nyoto saat berusaha menyelamatkan pria gangguan jiwa yang memanjat tower penangkal petir, beberapa waktu lalu. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Aksi Nyoto saat berusaha menyelamatkan pria gangguan jiwa yang memanjat tower penangkal petir, beberapa waktu lalu. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Di atas kubah gedung yang lebarnya hanya 50 meter itulah, ia mencoba menawari korban dengan sebatang rokok dan benda lainnya. Tapi hasilnya nihil. Korban bergeming tak mau turun.

Meski begitu, dewi fortuna tiba-tiba menghampirinya. Setelah terlalu lama berada di atas gedung, korban mulai terkulai lemas karena kelelahan. Posisinya hampir saja terjatuh tapi dengan sigap berhasil ia tangkap.

Nyoto merupakan asa terakhir bagi sebagian warga Semarang yang membutuhkan pertolongan tatkala tertimpa musibah. Aksi penyelamatannya boleh dibilang selalu sukses meski melewati perjuangan panjang. Baginya, semua itu panggilan jiwa yang mampu meredam rasa takutnya setiap saat.

Berlatarbelakang sebagai mantan prajurit TNI AL, ia sudah cukup mahir dalam menghadapi segala bencana alam. Menjadi dokter bedah darurat sekaligus penyelam bawah sungai malah sempat dilakoninya dua tahun silam.

“Itu saya lakukan saat menyelamatkan nyawa pemancing yang terjebak di reruntuhan jembatan Sayung pada 2013 silam. Kondisi kakinya yang terjepit 14 jam di bawah sungai memaksa saya harus memotongnya sampai pangkal betis,” ungkapnya.

Kini, Nyoto telah dipercaya oleh rekan-rekannya menjadi komandan tim penyelamat tiap kali ada laporan bencana masuk ke kantor Basarnas. (far)