Home > Berita Pilihan > Kisah Penjaga Stasiun Semarang Goedang Melawan Gerusan Rob

Kisah Penjaga Stasiun Semarang Goedang Melawan Gerusan Rob

METROSEMARANG.COM – Langkah kaki Sadli masih sigap saat menemani wartawan menuju sisa bangunan Stasiun Semarang Goedang di Jalan Spoorland I, Kemijen, Selasa (27/9) siang.

Bangunan Stasiun Semarang Goedang di tengah kepungan rob. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Bangunan Stasiun Semarang Goedang di tengah kepungan rob. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Sadli yang telah menghabiskan 30 tahun bekerja di Semarang Goedang mengaku tak bisa begitu saja membiarkan salah satu stasiun barang tertua di Jawa Tengah, itu ditenggelamkan gelombang pasang air laut.

“Sesekali menengok stasiunnya sekalian bertemu teman yang masih mengelola koperasinya juga,” kata lelaki 66 tahun itu.

Kendati rambutnya telah memutih, namun ingatan Sadli pada sejarah panjang stasiun tersebut tak pernah lekang dimakan zaman. Ia mengatakan Semarang Goedang pernah menggapai kedigdayaannya di tahun 1975 silam.

Di masa-masa itulah, ia menjadi tenaga pengatur lalu lintas perkeretapian lengkap dengan topi merah dan kedua tongkat pengatur laju kereta di tangannya. Ada 125 orang yang bekerja di situ.

“Ini dulunya khusus untuk angkutan barang. Artinya semua orang bisa menerima dan mengirim barang dari sini,” katanya mantap.

Semarang Goedang tempo dulu, katanya memiliki 10 jalur perlintasan yang dapat tiap hari dilalui 13 lokomotif kereta api. Jumlah yang sangat besar waktu itu ditambah kapasitas barang yang diangkutnya juga relatif banyak.

“Dengan kapasitas super besar, di sini merupakan salah satu stasiun barang tertua. Paling tidak ada enam pemberangkatan kereta setiap hari menuju Jakarta, lalu ke timur menuju Demak, Purwodadi, Kudus, Surabaya bahkan sampai ke jalur selatan Solo,” akunya.

Ia pun bangga menyebut bahwa banyak hasil bumi yang mampu dikirim lewat Semarang Goedang. “Baik itu sembako, kayu, pasir, semen, pupuk dikirim dari Semarang Goedang. Sehingga, tempat ini dulunya jadi sentral transportasi bagi masyarakat Pantura Jawa,” terangnya.

Meski demikian, masa kejayaan Semarang Goedang perlahan meredup seiring dengan laju pertumbuhan transportasi darat yang semakin pesat pasca dekade 70-an.

Terlebih lagi, menurutnya Semarang Goedang bak gudang tua yang kian keropos dihantam gelombang air rob. Bangunannya kini tak lebih dari gedung mangkrak yang dijadikan tambak udang oleh warga setempat. “Karena terus-menerus ditinggikan tapi tidak bisa mengimbangi laju rob, Semarang Goedang akhirnya tidak lagi beroperasi pada 2006,” katanya.

“Walaupun jelek begini, Semarang Goedang merupakan bangunan cagar budaya warisan kolonial Belanda,” sambungnya seraya menambahkan bila kompleks stasiunnya juga menghubungkan dengan jalur kereta menuju Stasiun Kemijen dan Spoorland.

Dari tiga stasiun itu, hanya Semarang Goedang yang masih berdiri, sedangkan Stasiun Kemijen telah ditelan rob, begitu pula dengan Spoorland yang berubah menjadi rumah-rumah penduduk.

Memasuki hari jadi KAI ke-71, ia berharap agar mantan pegawai Stasiun Semarang Goedang mendapat perhatian serius dari Pemkot Semarang. “Sebaiknya KAI memperhatikan nasib kami yang telah susah payah mempertahankan bangunan cagar budaya,” tutupnya. (far)