Home > Berita Pilihan > Kisah Perjalanan Cholillah Menjadi Mualaf Tepat di Hari Natal

Kisah Perjalanan Cholillah Menjadi Mualaf Tepat di Hari Natal

METROSEMARANG.COM – Majelis Taklim Al-Harokah mengadakan pengajian mualaf di Masjid Nurul Huda Asrama TNI Mrican Semarang, Minggu (25/12). Dalam rangkaian acara tersebut ada salah seorang jemaah yang resmi memeluk agama Islam, bertepatan dengan perayaan Natal tahun ini.

Cholillah mengurai dua kalimat syahadat sekaligus menandai dirinya sebagai seorang Muslim, Minggu (25/12). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Cholillah, warga Kampung Baru Mrican, Semarang mengucap kalimat syahadat di hadapan puluhan jemaah lainya yang mayoritas merupakan mualaf.

Awalnya ia beragama islam, lalu pada tahun 2005 lalu ia pindah agama menjadi Katolik lantaran mengikuti suaminya saat pernikahan. Setelah 11 tahun, kini ia kembali lagi ke agama islam.

“Ya nggak tahu Mas, waktu itu tiba tiba rasanya pengin salat,” tuturnya saat ditanya alasan kembali ke agama Islam.

Meski ia pindah agama, namun suaminya tetap beragama Katolik. Dirinya juga telah mendapatkan izin dari suami untuk kembali ke Islam lagi.

“Ya waktu itu ketika saya salat suami melihat terus dia diem aja. Lalu beberapa waktu kemudian dia bilang saya senang lihat mama mau salat lagi,” katanya.

Dengan begitu Cholillah menangkap bahwa suaminya telah mengizinkannya untuk kembali menjadi seorang Muslim. Sementara itu anak Cholillah kini juga beragama katolik.

Ia mengaku awalnya ketika merasakan ingin salat pada 7 September 2016 lalu. Dia berkisah, pada waktu Magrib, tiba-tiba ia ingin salat. Saat itu Cholillah bergegas mengambil air wudu dan melaksanakan salat Magrib, rutinitas yang dulu pernah dia lakukan sekitar 11 tahun silam.

Ia merasa senang bisa kembali lagi beragama Islam “Ya perasaan saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi seusai saya salat waktu itu ndak tahu kok ada perasaan tenteram, ada perasaan nyaman, terus berlanjut sampai sekarang,” urainya.

Koordinator Al-Harokah, Siti Wahida mengatakan agenda pengajian ini dilakukan sudah sejak tahun 2015 lalu. Tiap dua bulan sekali mereka mengadakan pengajian di Kecamatan Candisari dan Kecamatan Semarang Tengah.

“Kalau sekarang di Kecamatan Candisari, berati dua bulan lagi pengajiannya di Kecamatan Semarang Tengah,” katanya.

Siti menambahkan, untuk tempat pengajian tak harus di masjid, namun di rumah jemaahnya juga bisa. “Misal ada mualaf yang mempersilakan rumahnya untuk pengajian ya ndakpapa kita laksanakan di situ, dan biaya seperti komsumsi yang nanggung dari majelis taklm kami,” pungkasnya. (fen)