Home > Berita Pilihan > Kisah Pilu Sugeng, Manusia Gerobak yang Banting Tulang demi Hidupi Ibunya

Kisah Pilu Sugeng, Manusia Gerobak yang Banting Tulang demi Hidupi Ibunya

METROSEMARANG.COM – Hujan gerimis yang mengguyur Semarang sejak pagi buta tak menyurutkan langkah kaki Sugeng Widodo untuk mengais rezeki. Setiap hari, Sugeng begitu ia akrab disapa berangkat dari rumahnya di gang sempit yang berdempetan dengan kios Pasar Kranjangan, sambil menarik gerobak sejak pukul 06.00 WIB. Ia menyusuri jalan raya untuk memungut botol-botol bekas agar dapat dijual kembali.

Sugeng Widodo dengan setia menunggui ibunya yang berbaring di dalam gerobak. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Sugeng Widodo dengan setia menunggui ibunya yang berbaring di dalam gerobak. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Beberapa kali ia menghela napas dalam-dalam sambil melirik wanita tua yang duduk di dalam gerobaknya. “Ini ibu saya. Dia saya bawa naik gerobak karena di rumah ndak ada yang merawatnya,” kata Sugeng saat ditemui metrosemarang.com di pinggir Jalan Pandanaran, Senin (24/10) pagi.

Tepat di depan Keuskupan Agung Semarang (KAS) di Jalan Pandanaran yang dipenuhi pepohonan rindang itulah, ia hampir tiap pagi melepas lelah bersama Sumirah, ibundanya. Pakaiannya tampak lusuh usai diguyur gerimis. Begitu pula dengan ibunya. Ia mengaku hanya bisa memberikan plastik seadanya agar ibunya tidak kena hujan.

Saat melepas penat di pinggir jalan, ia terkadang mendapat segelas air mineral dan sebungkus roti dari pemotor yang iba. Makanan itu mereka bagi berdua sebagai penahan lapar. “Saya hanya bisa duduk di gerobak karena kaki saya lagi sakit,” sahut Sumirah yang telah berusia 73 tahun itu.

Ketidakberdayaan ibunya yang membuat Sugeng tak tega meninggalkannya sendirian di rumah.

“Di rumah, adik saya juga bekerja. Karena kasihan lihat ibu saya yang sudah tua dengan kondisi mata yang mulai rabun dan kondisinya yang sakit-sakitan, jadi mau enggak mau ya mengajaknya naik gerobak,” ujar Sugeng lagi.

Mengais botol bekas sambil memboyong sang ibu tentu bukanlah perkara mudah. Ia harus beradu malu dengan pengguna jalan lainnya yang umumnya naik sepeda motor maupun mobil.

Selama mengais botol bekas, Sugeng mengaku tak selalu beruntung. Sebab, kadang kala dalam sehari hanya dapat beberapa botol saja. Namun, jika nasib baik sedang mengampirinya, ia bisa mendapatkan banyak botol bekas.

“Tapi sejak pagi tadi, saya cuma dapat beberapa kaleng botol. Biasanya kalau sudah ngumpul banyak saya jual lagi ke tetangga yang jadi pengepul barang bekas. Ya cuma ini yang bisa saya lakukan demi menghidupi ibu saya, Mas,” katanya.

“Hasilnya bisa dapat Rp 3.000 sampai Rp 5.000,” sambungnya.

Rutinitasnya mengais botol bekas sudah dilakoninya sejak belasan tahun silam. Ia awalnya bekerja merongsok barang bekas bersama ibunya di Jakarta. Tapi, lambat-laun dengan kesehatan yang menurun, ia lalu membawa ibunya pulang kampung ke Semarang.

“Waktu itu, saya bawa ibu naik gerobak ratusan kilometer dari Jakarta ke Semarang dan sampai sekarang ini kita berdua mengais botol bersama-sama. Pergi pagi hari, pulangnya selepas salat Dzuhur,” terangnya. (far)