Home > METRO BERITA > KULINER > Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong, Warisan Cheng Ho di Semarang

Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong, Warisan Cheng Ho di Semarang

Patung Lakasaman Cheng Ho di depan Klenteng Sam Po Kong (foto: travelmatekamu.com)
Patung Lakasaman Cheng Ho di depan Klenteng Sam Po Kong (foto: travelmatekamu.com)

Satu lagi obyek wisata yang sayang dilewatkan saat berkunjung ke Semarang adalah Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Dinamakan Klenteng Gedung Batu karena bangunan ini dulunya berbentuk gua besar di bawah sebuah gunung batu. Bukit batu ini konon kabarnya merupakan tempat bersandarnya kapal Laksamana Cheng Ho, seorang panglima dari kerajaan di Tiongkok yang juga adalah seorang penganut Islam. Dalam perjalanannya mengarungi samudera, dia juga menyebarkan agama Islam.

Laksamana Cheng Ho tiba di Semarang sekitar abad ke-15. Dia adalah utusan dari negeri China yang datang ke Jawa dengan membawa misi persahabatan. Saat tengah menyusuri Laut Jawa, seorang pengikutnya jatuh sakit. Lalu ia memerintahkan awak kapalnya untuk menepi dan menyusuri sebuah sungai, yang sekarang dikenal sebagai Sungai Kaligarang. Kapal Cheng Ho bersandar di sebuah desa bernama Simongan, tepatnya si bawah sebuah bukit batu.

Sementara awak kapalnya dirawat oleh masyarakat setempat, Cheng Ho dan para pengikutnya yang lain mendirikan sebuah altar di dalam gua batu. Di dalam gua batu itu, Cheng Ho bertapa dan shalat, sedangkan pengikutnya yang beragama lain pun beribadah kepada para dewa.

Setelah awak kapalnya berangsur sembuh, Laksamana Cheng Ho dan para pengikutnya pun meninggalkan Desa Simongan untuk meneruskan perjalanannya. Bertahun-tahun setelah Cheng Ho meninggalkan Semarang, gua tersebut tertimbun longsor. Dan sebagai penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho, masyarakat setempat menggali gua tersebut dan membangun altar yang dilengkapi dengan patung Cheng Ho, sebagai penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang dianggap telah melindungi penduduk dari marabahaya.

Seiring berjalannya waktu, Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong terus diperbaiki dan dipugar. Klenteng ini sekarang sudah berdiri lebih megah dan lebih luas. Kompleks klenteng ini terdiri atas beberapa bangunan, yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tae Kong, dan empat tempat pemujaan untuk Kyai Jurumudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Mbah Kyai Tumpeng.

Meskipun bentuk bangunannya seperti klenteng, yang adalah tempat peribadatan umat Konghucu, Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong ini tetap memiliki ciri keislaman, yakni adanya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an.”

Klenteng ini sering dikunjungi para peziarah dari berbagai kota di Jawa, juga para turis asing yang berwisata dengan kapal pesiar dari Eropa. (ren)