Home > METRO BERITA > Koleksi Satwa Minim, Bonbin Mangkang Dinilai Kurang Edukatif

Koleksi Satwa Minim, Bonbin Mangkang Dinilai Kurang Edukatif

METROSEMARANG.COM – Taman Margasatwa atau lebih dikenal dengan Kebun Binatang (Bonbin) Mangkang di Kota Semarang dinilai kurang nilai edukatif. Selain koleksi binatangnya yang kurang satwa-satwa yang ada di dalamnya juga dianggap kurang terawat.

Para pengunjung melihat-lihat koleksi satwa yang ada di Bonbin Mangkang, Senin (12/12). Minimnya koleksi satwa yang ada di dalamnya membuat bonbin ini dinilai kurang nilai edukatif. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Pada libur panjang tiga hari (10-12/12)  kemarin, ribuan pengunjung dari berbagai daerah sekitar memilih berwisata di tempat ini. Kendaraan yang parkir bahkan sampai mengular ke pinggir jalan Semarang-Kendal karena di dalam penuh.

Namun sayangnya setelah keliling sebagian pengunjung kecewa dengan kondisi Bonbin Mangkang. Salah satu pengunjung bonbin, Arin Nur Khomsah mengatakan, tempat ini sebenarnya tidak pas disebut sebagai taman margasatwa atau bonbin.

”Di dalam koleksi binatangnya sangat kurang. Banyak binatang yang ada kondisinya juga kurang terawat. Bahkan beberapa ekor ular terlihat lemas karena mulutnya terluka parah,” kata Arin menceritakan kepada metrosemarang.com, Selasa (13/12).

Selain koleksi binatangnya kurang, guru sekolah dasar ini juga menilai Bonbin Mangkang kurang memiliki nilai edukatif. Karena lebih banyak wahana permainannya dibandingkan koleksi satwanya, yang sebenarnya bisa menjadi media belajar khususnya bagi anak-anak untuk mengenal binatang.

”Karenanya tidak pas kalau disebut taman margasatwa, karena seperti memindahkan pasar malam saja kesini. Padahal kalau sekolah atau orang tua mengajak anak-anaknya kesini pasti tujuannya untuk mengenal binatang,” kata Arin, yang ketika berkunjung juga mengaku mengajak anaknya.

Pemkot Semarang sendiri saat ini sudah membentuk sebuah Perusahaan Daerah (Perusda) untuk mengelola Bonbin Mangkang. Dengan menjadi Perusda harapannya pengelolaannya bisa semakin baik daripada saat ini yang hanya dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. (duh)