Home > METRO BERITA > Konservasi Jangan Hanya Terpusat di Kota Lama

Konservasi Jangan Hanya Terpusat di Kota Lama

Kawasan Kota Lama masih menjadi pusat konservasi. Foto Metrosemarang/MS-01
Kawasan Kota Lama masih menjadi pusat konservasi. Foto Metrosemarang/MS-01

SEMARANG – Konservasi aset sejarah di Kota Semarang masih terpusat di Kawasan Kota Lama. Padahal, Semarang juga punya banyak kawasan lain yang punya kekhasan tersendiri dan patut dilestarikan bangunan-bangunannya.

Hal itu disampaikan Pengajar Arsitektur Unika Soegijapranata, Dr Rudyanto Soesilo dalam seminar Heritage Architechture menyambut Dies Natalis Arsitektur Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata ke-47. Menurutnya, Kota Lama hanya salah satu peninggalan pola pemerintahan zaman kolonialisme Belanda.

“Konservasi tidak berhenti pada pelestarian bangunan saja. Tapi juga harus mempelajari kegiatan dan budaya apa saja yang dilakukan di masa lalu. Konservasi di wilayah bekas kolonisasi berbeda dengan konservasi di negaranya sendiri,” katanya.

Dia menambahkan, Berulang kali helatan acara budaya dan kesenian digelar di Kota Lama. Bahkan, Pemerintah Kota Semarang berkali-kali menganggarkan miliaran rupiah untuk Taman Srigunting di sebelah Gereja Blenduk. Padahal Kota Lama hanya salah satu peninggalan pola pemerintahan zaman kolonialisme Belanda. Padahal, kata dia, ada kawasan lain yang patut dilestarikan bangunan-bangunannya.

Berdasarkan sejarah, Kota Semarang merupakan salah pusat kedudukan Belanda. Dengan politik devide et impera, Belanda membagi Semarang menjadi beberapa wilayah permukiman berdasar etnisitas. Pelandan, pecinan, kauman, dan pekojan. Masing-masing memiliki kekhasan arsitektur sendiri, dengan budaya khas kala itu.

“Kegiatan konservasi harus mengembang ke kawasan lain. Untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Semarang layak menjadi Wolrd Heritage City 2020 (program penghargaan UNESCO terhadap kota yang dinilai sebagai Kota Pusaka Dunia),” tandasnya.

Ia mencontohkan, munculnya Pasar Semawis di Kawasan Pecinan adalah contoh menggeliatnya kegiatan konservasi di luar Kota Lama.

Sementara, Dr Krisprantono yang juga pengajar arsitektur Unika menambahkan, mempelajari sejarah Semarang, harus mempelajari pula pola kawasan saat itu. “Konservasi harus autentik. Sekarang ini sudah dilakukan penggalian benteng untuk menemukan autentisitas bangunan,” kata Krisprantono. (MS-06)