Home > METRO BERITA > Korban Penipuan Batik Baru Melapor, Masuk Berkas Terpisah

Korban Penipuan Batik Baru Melapor, Masuk Berkas Terpisah

image

SEMARANG – Tidak lama ini penyidik Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang melimpahkan berkas perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan modus investasi seragam batik sekolah senilai Rp 102 miliar ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Semarang, Ajun Komisaris Besar Polisi Wika Hardianto memaparkan, selama proses pelengkapan berkas rupanya korban dari dua tersangka terus datang melapor ke Polrestabes Semarang. Untuk pelapor setelah berkas dinyatakan lengkap, kata dia, penyidik akan memasukkannya di berkas berbeda. “Yang baru kami berkas sendiri untuk memperberat jeratan tersangka,” kata Wika.

Adapun dua tersangka, Arista Kurniasari (38) dan suaminya Yohanes Onang Supotiyo Budi (48) warga Kelurahan Kembang Arum, Kecamatan Se­marang Barat. Keduanya dituduh menghimpun dana investor melalui CV Cahaya Mulia sejak akhir tahun 2010 dengan berkisar 9 sampai 11 persen. Arista ditahan di sel tahanan Mapolrestabes Semarang sejak Sabtu (14/6) malam. Dua minggu sebelumnya, suami Arista lebih dulu ditangkap dan dimintai keterangan oleh polisi.

Dijelaskannya, saat ini penyidik terus mengembangkan kasus ini. Termasuk menelusuri semua aset tersangka. “Selama pemeriksaan tersangka berbelit-belit. Masih kami tahan,” tukasnya.

Adapun pengungkapan kasus tersebut bermula ketika puluhan korban melapor ke Mapolrestabes Semarang pada November 2013. Setelah itu disusul juga oleh laporan korban lainnya. Berdasarkan laporan-laporan itulah polisi kemudian melakukan penyelidikan dan penelusuran.

Arista adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang berprofesi sebagai guru di sebuah Sekolah Dasar di Kota Semarang. Praktik yang dilakukan oleh Arista sudah berjalan sejak tahun 2010 lalu. Modusnya adalah dengan menawarkan investasi batik dengan berbekal surat perintah kerja (SPK) dari Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Perbuatan tersangka merugikan ratusan korban yang berasal dari berbagai kota, seperti Semarang, Yogyakarta, Subang, bahkan sampai Balikpapan. Kerugian korban mencapai Rp 102 miliar. (MS-12)