Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Kotak Kosong jadi Pesaing Calon Petahana di Pilkada Pati 2017

Kotak Kosong jadi Pesaing Calon Petahana di Pilkada Pati 2017

METROSEMARANG.COM – Fenomena menarik muncul di Kabupaten Pati saat memasuki bursa Pilkada serentak 2017. Pasalnya, Haryanto-Saiful Arifin yang ditetapkan jadi satu-satunya pasangan calon yang maju di Pilkada Pati 2017 nanti dipastikan bakal berhadapan dengan kotak kosong untuk mengakomodasi warga yang menolak mencoblos paslon petahana tersebut.

Ilustrasi
Ilustrasi

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng, Joko Purnomo mengatakan mekanisme pemberian kotak kosong disamping kotak suara bergambar paslon Haryanto-Saiful Arifin itu telah diatur dalam perundang-undangan yang telah dibuat oleh lembaganya.

“Jadi nanti saat pencoblosan, kotak bergambar paslon di Pati akan berdampingan dengan kotak kosong. Kondisi ini mirip dengan yang terjadi di Kabupaten Tulangbawang,” kata Joko, saat dikonfirmasi wartawan di Setos Semarang, Jumat (28/10) sore.

Meski begitu, ia menyayangkan banyaknya warga Pati yang belum tahu manfaat mencoblos kotak kosong. Warga, menurutnya masih takut nyoblos kotak kosong karena dianggap tidak sah.

“Karena itulah, kita terus menyosialisasikan ke sana bahwa nyoblos kotak kosong itu sah dan diperbolehkan. Apalagi, itu haknya masyarakat Pati yang mengikuti Pilkada 2017 nanti,” jelasnya.

Uniknya lagi, khusus pelaksanaan Pilkada Pati, KPU memperbolehkan warga setempat untuk mengampanyekan pencoblosan kotak kosong. Hanya saja, ia mengaku tak bisa memfasilitasi proses kampanye tersebut.

“Boleh kampanye kotak kosong asalkan seizin polisi dan harus sesuai etika berkampanye agar tidak dipidana,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Ketua Bawaslu Jateng, Abhan Misbah mewaspadai pelaksanaan Pilkada di Pati lantaran potensi pelanggaran kampanyenya justru cenderung tinggi.

Ia melihat dengan posisi calon yang seorang petahana pasti potensi penyalahgunaan wewenangnya sangat besar. “Salah satunya mobilisasi PNS karena dia calon petahana. Nah, ada tiga hari masa tenang itu yang paling krusial,” pungkas Abhan. (far)