Home > METRO BERITA > KPS Minta Dilakukan Kajian Cagar Budaya terhadap Bangunan Kuno di Pasar Peterongan

KPS Minta Dilakukan Kajian Cagar Budaya terhadap Bangunan Kuno di Pasar Peterongan

Bangunan Pasar Peterongan yang diduga masuk kategori cagar budaya. Foto Metrosemarang/dok
Bangunan Pasar Peterongan yang diduga masuk kategori cagar budaya. Foto Metrosemarang/dok

SEMARANG – Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang menyatakan ada sebuah bangunan kuno di Pasar Peterongan Semarang yang harus dilindungi karena diduga memenuhi kriteria bangunan peninggalan sejarah (cagar budaya).

Komunitas ini telah mendaftarkan cagar budaya bangunan kuno itu ke Tim Ahli Cagar Budaya Kota (TACB) Semarang, Kamis (13/11). Laporan ditembuskan kepada Wali Kota Semarang, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, Dinas Pasar Kota Semarang, dan pemangku kepentingan lainnya. “Bangunan kuno ini merupakan bangunan pasar aslinya yang dibangun pada 1916. Kalau bangunan di sekelilingnya merupakan pengembangan,” kata Sekretaris KPS Semarang Yunantyo Adi S.

Ia menjelaskan bangunan kuno Pasar Peterongan berstruktur beton dan hampir menyatu dengan Punden Mbah Gosang dan pohon asem jawa yang berusia seribu tahun lebih dan itu memiliki arti khusus bagi pedagang Pasar Peterongan serta masyarakat Kota Semarang. Setiap bulan Suro atau Muharram, kata dia, selalu dilakukan ritual di Punden Mbah Gosang dan Pohon Asam itu sehingga membuktikan bahwa tempat tersebut memiliki arti khusus yang semestinya dilestarikan.

“Pemerintah Kota Semarang dalam hal ini Dinas Pasar dan pihak terkait lainnya berencana merevitalisasi Pasar Peterongan. Kami mohon dilakukan kajian cagar budaya sebagai tindak lanjut atas temuan bangunan kuno di pasar tersebut,” ujar dia.

Selama ini, bangunan kuno Pasar Peterongan belum ditetapkan sebagai cagar budaya serta belum masih dalam Senarai Inventarisasi dan Dokumentasi Bangunan dan Kawasan Pusaka Kota Semarang.

Kasus serupa, kata dia, pernah terjadi pada bangunan bersejarah peninggalan Sarekat Islam (SI) di Jalan Gendong Selatan 1144 Semarang, namun setelah dilaporkan dan dikaji ternyata memenuhi syarat sebagai bangunan cagar budaya dan saat ini Gedung SI tersebut sudah ditetapkan wali kota Semarang sebagai bangunan cagar budaya.

Untuk bangunan kuno Pasar Peterongan, ia mengatakan, dari syarat usia bangunan minimal 50 tahun memenuhi karena usia bangunan itu sekarang 98 tahun, atau lebih tua dari Gedung SI yang dibangun pada 1920. Dari segi masa gaya bangunan, kata dia, juga memenuhi syarat karena gaya arsitektural bangunan kuno itu sezaman dengan gedung SI dan Stasiun Kereta Api (KA) Pekalongan, dibuktikan kemiripan gaya bangunannya.

Bahkan, Yunantyo mengatakan, bangunan kuno Pasar Peterongan yang hanya berlantai satu merupakan bangunan pertama di zamannya yang menggunakan konstruksi beton dengan gaya bangunan mirip stasiun KA.

Oleh sebab itu KPS meminta dilakukan kajian cagar budaya, perlindungan, dan pengamanan terhadap bangunan kuno di Pasar Peterongan yang diduga cagar budaya, sekaligus pendaftaran sebagai cagar budaya. “Kami tidak menghalangi revitalisasi Pasar Peterongan. Kalau mau direvitalisasi, silakan saja. Namun, bangunan kuno yang luasnya sekitar tiga kali Gedung SI itu dilindungi. Tidak ikut dibongkar,” katanya. (*)