Home > METRO BERITA > METRO BISNIS > Landed House, Masih Jadi Pilihan Utama di Semarang

Landed House, Masih Jadi Pilihan Utama di Semarang

image
Proses pembangunan perumahan Payon Amartha (foto: Metro Semarang/Ilyas Aditya)

SEMARANG – Seakan tak memperdulikan konsep horizontal building seperti pembangunan apartemen dan rumah susun yang terus berkembang di Semarang, PT. PP (Persero) Tbk, melalui anak perusahaannya yang bergerak dibidang properti, yakni PT. PP Property, tetap mempertahankan konsep pemukiman berkonsep vertikal atau pemukiman datar (Landed House) hingga beberapa tahun mendatang.

Direktur Operasional PT. PP Property, Galih Saksono mengatakan, alasan pihaknya tetap mempertahankan konsep Landed House karena untuk mayoritas masyarakat kota Semarang dinilai cenderung lebih memilih tinggal di rumah bergaya Landed House dibandingkan tinggal di apartemen .

“Gaya hidup masyarakat di Semarang tentu saja berbeda dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Pembangunan Landed House masih memungkinkan adanya pengembangan perumahan, melihat kepadatan penduduk yang masih batas toleransi,” tuturnya saat ditemui di Kantor Pemasaran PT. PP Property, jalan Bukit Asam Raya, No. 57, Ngaliyan Semarang, Selasa (21/10).

Ia menambahkan, konsep demikian yang dibangun di Semarang sejak tahun 1996 dibilang berhasil. Kesuksesan itu ditandai pembangunan kawasan pemukiman Permata Puri di daerah perbukitan Ngaliyan. Dibangun di atas luas bangunan tanah sekitar 60 hektare (ha) dan ketinggian 150 dpl dengan jumlah 2.200 rumah dari berbagai tipe.

Sekarang, PT. PP Property tengah meluncurkan pembangunan perumahan Payon Amarta sebanyak 191 unit yang juga dibangun di wilayah Ngaliyan Semarang. Dalam hal ini PT. PP Property juga  menggandeng PT. Telkom Tbk dengan mengusung konsep smart home yang dilengkapi fasilitas wifi.

Selain itu, PT. PP Property juga tengah mengembangkan mega proyek Grand Kamala Lagoon di Bekasi, Apartemen Pavilion Amarta dan Grand Sungkono Lagoon di Surabaya, serta apartemen gunung putri Square di Bogor dengan mengembangkan cluster, yakni Payon Amartha.

“Total nilai revenue ditargetkan Rp. 315 miliar dalam jangka tiga tahun. Konsep ini dirasa masih menjanjikan dalam jangka beberapa tahun ke depan,” tandasnya. (Yas)