Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Liga Baru, Semangat Masih Seperti Dulu

Liga Baru, Semangat Masih Seperti Dulu

Ilustrasi.

Football is emotion and emotion shows the dedication and will to win.. 

STADION Andi Mattalata Makassar memanggungkan salah satu pertandingan terbaik sepanjang gelaran kompetisi berlabel Liga 1 musim ini ketika tuan rumah PSM menjamu Bali United, Senin (6/11) silam. Laga di pekan ke-33 tersebut mencerminkan kualitas dua tim yang tengah bersaing merebut titel kompetisi kasta tertinggi.

Hari itu menjadi malam yang sempurna bagi Bali United. Meski digempur habis-habisan, nyaris di sepanjang laga, skuad besutan Widodo Cahyono Putro justru tampil sebagai pemenang lewat gol Stefano Lilipaly.

Terlepas dari ulah suporter tuan rumah yang meluapkan kekecewaan dengan menyerang kubu Bali United, pertandingan tersebut rasanya tak akan membosankan sekalipun ditonton berulang-ulang.

Keributan yang dihadirkan oleh sesama pemain Bali United, Stefano Lilipaly dan Sylvano Comvalius di penghujung babak pertama, memerlihatkan tingginya tensi pertandingan. Berawal dari tendangan spekulasi Lilipaly dari jarak jauh yang gagal berbuah gol. Comvalius yang merasa kesal terlibat cekcok dan adu fisik dengan pemain naturalisasi tersebut.

Toh, semua itu terbayar lunas dengan kemenangan Serdadu Tridatu–julukan Bali United. Dan gol yang tercipta merupakan kreasi dua pemain yang sebelumnya nyaris adu jotos. Umpan terukur Comvalius mampu dituntaskan dengan sempurna oleh Lilipaly, sekaligus memupus asa PSM untuk jadi juara.

“Sepakbola adalah tentang emosi dan emosi menunjukkan dedikasi serta keinginan untuk menang…INI JAWABANNYA!!!,” begitu cuitan Sylvano Comvalius melalui akun Instagram miliknya, terkait ribut-ribut dengan Lilipaly.

Bali United pun makin di atas angin. Dengan poin 65, mereka menggusur Bhayangkara FC sebagai capolista dan unggul dua angka. Mereka menjadi favorit juara karena di laga terakhir hanya melawan tim juru kunci Gresik United. Sedangkan Bhayangkara yang masih menyimpan dua laga harus bertemu Madura United dan Persija Jakarta.

Namun, kisah malam sempurna Bali United di Makassar hanya berumur dua hari. Rabu (8/11), PT Liga Indonesia Baru (LIB) merilis hasil putusan Komdis PSSI ternadap laga Mitra Kukar versus Bhayangkara FC.

Berdasarkan surat Komdis PSSI nomor 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 tanggal 5 November, Mitra Kukar dinyatakan kalah 0-3 dan diwajibkan membayar denda Rp 100 juta karena dinyatakan memainkan pemain tidak sah, Mohamed Sissoko, saat menjamu Bhayangkara FC di Stadion Aji Imbut, Tenggarong (3/11/2017).

Keputusan yang kemudian menjadi kontroversi. Cukup aneh ketika klub sebesar Mitra Kukar yang sudah bertahun-tahun ikut kompetisi bisa membuat kekonyolan seperti itu. Tapi, mereka juga punya dasar dengan tetap memainkan eks gelandang Liverpool.

Pasalnya, beredar juga surat dari PT LIB sebelum laga Mitra Kukar vs Bhayangkara FC. Dalam surat tertanggal Jumat (3/11/2017), No 212/NLB-LIGA1/XI/2017, disebutkan hanya ada dua pemain yang mendapat larangan tampil, yakni Herwin Tri Saputra dan Indra Kahfi. Atas dasar itu, Mitra Kukar tetap memainkan Sissoko.

Sudah pasti kubu Bali United meradang karena dengan begitu kans terbesar menjadi juara dimiliki Bhayangkara FC. Bahkan, kapten PSM Makassar, Hamka Hamzah pun turut mengkritik kinerja operator kompetisi.

Bhayangkara FC pada prosesnya tetap menjadi kampiun, sekalipun di laga pamungkas takluk dari Persija. Tim milik Polri itu unggul head to head atas Bali United, meski poin akhir sama-sama 68.

***

Kegaduhan di penghujung kompetisi bukan hanya terjadi di Liga 1. Liga 2 yang musim ini memberlakukan degradasi besar-besaran, juga setali tiga uang. Kompetisi kasta kedua ini masih stagnan di fase perempatfinal.

Babak 8 besar yang seharusnya digulirkan mulai 20 Oktober silam, sampai sekarang belum juga tuntas. Jadwal yang berubah-ubah dan venue yang berpindah-pindah membuat tim-tim kontestan kelimpungan.

Padahal, saat kompetisi diputuskan ditunda, Ketum PSSI Edy Rahmayadi berdalih agar pelaksanaan babak 8 besar lebih matang. Tapi, hasilnya masih jauh dari harapan.

Saat technical meeting pada akhir Oktober akhirnya disepakati bahwa babak 8 besar digelar mulai 9 November di Bekasi dan Cikarang. Grup X yang berisi Persis Solo, PSMS Medan, Kalteng Putra dan Martapura FC bakal memainkan laga di Stadion Wibawa Mukti Cikarang.

Sedangkan Grup Y yang dihuni PSIS Semarang, Persebaya Surabaya, PSPS Riau dan PS Mojokerto Putra dihelat di Stadion Patriot Bekasi. Namun, pada akhirnya penggunaan venue direvisi, di mana Grup X main di Bekasi dan Grup Y di Wibawa Mukti.

Kamis (2/11), PT LIB merilis jadwal resmi. Grup X main pada tanggal 9, 12, dan 15 November, sementara Grup Y berlaga pada 10, 13 dan 16 November.

Namun, sehari berselang jadwal itu direvisi karena bentrok dengan jadwal Liga 1 dan agenda Tim Nasional. Sebabnya, tanggal 12 November, Stadion Patriot dipakai mementaskan duel Persija kontra Bhayangkara FC. Sedangkan Stadion Wibawa Mukti digunakan ujicoba Timnas pada 15 dan 16 November. Alhasil, matchday 2 dan 3 masing-masing grup mundur sehari.

Sangat konyol ketika menyusun jadwal tidak memerhatikan agenda Timnas. Bahkan dengan jadwal pemakaian oleh tim Liga 1. Padahal operator yang menggulirkan kompetisi juga cuma satu.

Belum juga laga di Grup Y digulirkan, PT LIB lagi-lagi menganulir jadwal yang sudah mereka susun. Alasannya pemda dan pihak keamanan tidak memberi rekomendasi pertandingan digelar di Cikarang.

Padahal seluruh tim peserta sudah berada di Cikarang. Begitu juga dengan suporter fanatik mereka. Melalui surat bertanggal 11 November, PT LIB memutuskan memindahkan venue pertandingan Grup Y ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api dan Jalak Harupat yang akan digelar pada 15, 18 dan 21 November.

Dalam surat tersebut juga ada embel-embel segala kerugian yang dialami klub akibat perubahan jadwal menjadi tanggung jawab LIB. Lantas, siapa yang menanggung kerugian suporter yang sudah jauh-jauh datang ke Cikarang? Booking bus dan lain-lain. Belum lagi mereka yang sudah telanjur cuti kerja.

Bagaimanapun mereka adalah napas bagi kompetisi. Jangankan kompensasi materi, “maaf” pun tak terucap untuk mereka yang sudah dipermainkan emosinya.

***

Slogan “Liga Baru Semangat Baru” yang dikampanyekan sejak awal kompetisi bergulir April silam, ternyata hanya isapan jempol. Masalah setiap musim kompetisi masih yang itu-itu saja. Jadwal dan regulasi ambigu yang bisa dipastikan akan hadir di setiap kompetisi.

Liga yang benar-benar menguras emosi. Operator seharusnya juga tidak bisa mengabaikan dampak dari molornya babak 8 besar. Bisa saja akumulasi kekecewaan, kekesalan bakal ditumpahkan di Bandung. Bukan hanya suporter, mereka yang di dalam lapangan juga bisa bertindak konyol gara-gara terlalu sering di-PHP. (*)

Tinggalkan Balasan