Home > METRO BERITA > Lika-liku Pekerja Seks Menyapa Rumah Allah

Lika-liku Pekerja Seks Menyapa Rumah Allah

METROSEMARANG.COM – “Aku hanya ingin bertobat sebelum ajal menjemput”. Kata-kata itu meluncur dari mulut Ni’mah saat mengawali obrolannya dengan metrosemarang.com, di rumahnya, Minggu (24/7) pagi.

Hajah Ni'mah  Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Hajah Ni’mah
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Ni’mah, yang kini telah menyandang gelar hajah, sejatinya tak menyangka roda kehidupan berputar begitu cepat, justru tatkala ia tinggal di kawasan lokalisasi Sunan Kuning.

Ia semula hanyalah orang yang terusir dari kampung halamannya. Semuanya, berawal di Pulau Madura pada dekade 60-an. Petaka itu muncul saat pernikahan kedua orangtuanya tak direstui oleh kerabat ayahnya.

Gap antara Ningrat dengan rakyat jelata, rupa-rupanya jadi senjata ampuh untuk memisahkan mereka. Tapi apa daya, bukannya terpisah, namun cinta justru menguatkan mereka.

Singkat cerita, orangtuanya lalu terusir dari kampung. Mereka terpaksa menapaki satu daerah ke daerah lain, dengan harapan ada manusia berhati malaikat yang sudi menampung anak-anaknya yang masih kecil.

“Sampai di suatu hari, saat orangtua saya tinggal di Cirebon, saya meminta izin bekerja diluar kota. Itulah babak baru hidup saya,” kata perempuan berjilbab ini.

Kerja ke sana kemari akhirnya membuatnya ‘terdampar’ di Semarang. “Saya lalu tinggal di Sunan Kuning. Dulunya cuma tanah kuburan lalu lama-lama banyak wisma dan pasang tarif pekerja seksnya juga,” akunya.

Tahun 1986, ia pun ikut nyemplung di bisnis esek-esek. Satu persatu pelanggan ia layani tiap hari. Hingga saat malam Idul Fitri, hati kecilnya berkecamuk. Ia ingin menunaikan salat seperti masyarakat umumnya.

“Waktu itu, makin galau saya. Hati ini resah bercampur takut. Kemudian, saya terbesit untuk menunaikan ibadah haji. Saya berangkatlah sekitar pertengahan 1992 silam,” ujarnya seraya menambahkan kalau saat berhaji ia harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan teman-temannya.

“Ngumpet-ngumpet itu biar enggak ketahuan yang lain. Pastinya campur aduk antara takut sedih dan bahagia. Apalagi, saya berangkat ke Tanah Suci pakai uang tabungan sendiri,” terangnya.

Sama seperti umat Muslim lainnya. Meraba Hajar Aswad jadi salah satu harapannya tatkala kakinya melangkah di Masjidil Haram, Makkah. “Allhamdullilah semuanya dimudahkan oleh Allah SWT,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Resos Argorejo Sunan Kuning Suwandi bangga dengan apa yang telah dicapai mantan anak asuhnya itu. “Dua kali dia naik haji. Yang pertama berangkatnya diam-diam, yang kedua disambut ramai oleh warga resos,” ungkapnya.

Ia bilang Ni’mah adalah contoh yang baik bagi pekerja seks yang ingin bertobat dan mengubah diri jadi lebih baik. Ni’mah bagaikan oase di padang yang gersang.

“Salut saya sama dia. Walau dia sempat bekerja layani tamu tapi ada niatan yang bagus untuk merubah diri,” jelasnya.

Ia ingin pekerja seks di Sunan Kuning mengikuti langkah Ni’mah, sehingga ke depan perubahan perilaku sosialnya benar-benar mengangkat derajat lokalisasi tersebut. (far)