Home > EXPLORE SEMARANG > Lika-liku Petani Mangrove Semarang Menjaga Kawasan Pesisir

Lika-liku Petani Mangrove Semarang Menjaga Kawasan Pesisir

METROSEMARANG.COM – Kerja keras dan konsistensi menjadi modal utama kelompok tani Maroon Mangrove Edupark Semarang membentuk wahana edukasi berbasis hutan bakau. Enam tahun sudah para petani tanaman bakau membuat kawasan wisata tanaman pencegah abrasi ini di pesisir Pantai Maron, Semarang.

Kelompok tani pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang. Foto: metrosemarang.com/adhi permana widodo

Sejak tahun 2011, bekerja sama dengan PT. Phapros dan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMaT), mereka bekerja keras untuk mengupayakan terciptanya tempat konservasi sekaligus wisata edukasi bagi masyarakat Kota Semarang.

Bukan tanpa rintangan, mereka secara cuma-cuma menghabiskan waktu dan tenaga dari pagi hingga menjelang malam untuk merawat kawasan dan melayani pengunjung yang datang dengan penghasilan yang tidak pasti.

Nursalim (50) merasakan beratnya menjadi seorang petani bakau di Hutan Mangrove tersebut. “Pernah kita cuma berpenghasilan Rp 30 ribu dan itu dibagi untuk lima orang,” tutur ayah dua anak ini saat ditemui metrosemarang.com, Rabu (26/4).

Kondisi yang sama juga dialami oleh Rusmadi selaku ketua pengelola hutan sekaligus petani mangrove. “Penghasilan yang didapat dari pengunjung digunakan untuk membiayai petani yang menjaga, perawatan perahu, dan memperbaiki area wisata, jadi nominalnya (pemasukan) sedikit,” tuturnya.

Karena minimnya penghasilan yang didapat, para petani kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Istilahnya kita kerja sosial, lah. Jadi ukuran untuk makan kurang,“ tambahnya.

Meski begitu, tingginya minat pengunjung terhadap kawasan konservasi ini memberikan motivasi bagi para petani bakau agar mampu mempertahankan obyek wisata ini. “Kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin mengembangkan tempat ini dengan mengedukasi pengunjung, menjaga dan terus menggalakkan tempat ini demi memenuhi antusiasme pengunjung,” katanya.

Ke depannya, ia berharap pihak yang berwenang dapat berinisiatif membangun akses jalan menuju kawasan Maron untuk menunjang sektor wisata. “Banyak pengunjung mengeluhkan akses jalan menuju kawasan mangrove yang rusak, terutama pada saat hujan yang membuat pengunjung enggan untuk melewati jalan yang terjal dan berlumpur.”, pungkasnya. (MG-01)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link