Home > METRO BERITA > METRO SPORT > Liluk: Juara Bukan Fatamorgana

Liluk: Juara Bukan Fatamorgana

 

Wahyu 'Liluk' Winarto
Wahyu ‘Liluk’ Winarto

GELAR juara Divisi Utama memang masih terlalu jauh untuk dijangkau. Tapi, setidaknya PSIS sudah berada di jalur yang tepat untuk meraih target itu, yang berarti tiket promosi ke ISL musim berikutnya. Laju Mahesa Jenar hingga sejauh ini, tentunya  juga tak bisa dilepaskan dari peran Wahyu Winarto. Dialah orang yang bertanggung jawab terhadap lalu lintas pemain PSIS.

Musim ini, PSIS memang tak terlalu jor-joran membelanjakan duit. Anggaran yang disediakan manajemen Mahesa Jenar untuk berburu pemain masih kalah wah ketimbang Persikabo Bogor, tim yang dilumat Fauzan Fajri cs di laga perdana 16 besar, awal pekan ini. Alhasil, nyaris tak ada nama-nama tenar yang menghuni skuad the Blues.

Di sinilah peran Wahyu Winarto diuji. Dibantu dua asistennya, Didik SP dan Adi Saputro, pria yang akrab disapa Liluk ini sanggup mengumpulkan pemain-pemain berkelas dengan harga yang tak terlalu menguras kas.  Baginya, membentuk tim juara tak melulu harus menghambur-hamburkan uang. “Kami tak sekadar ingin punya tim yang berkualitas, tapi juga menjaga tim ini tetap solid hingga akhir kompetisi. Bahkan, untuk dua atau tiga tahun ke depan,” tuturnya.

Liluk pun punya standar jelas dalam perekrutan penggawa Mahesa Jenar. Penghobi burung berkicau ini tak silau dengan label bintang yang melekat pada seorang pemain. Menurutnya, pemain bintang bukan jaminan untuk mendatangkan kesuksesan. Tak heran, dia harus menolak proposal beberapa pemain tenar yang ingin bermukim di Semarang.

“Bagaimana seorang pemain punya komitmen untuk PSIS, itulah yang kami pertimbangkan. Kami juga siap memberi penghargaan atas hasil jerih payah pemain, ketika mereka juga berkontribusi positif buat PSIS. Percuma ada pemain bintang kalau nantinya hanya merusak tim,” tandasnya.

Eks Panpel ini juga punya pendekatan khusus dalam menggaet pemain. Selain mengamankan beberapa pilar musim lalu, Liluk juga sukses meyakinkan Anam Sahrul dan Ahmad Nufiandani untuk bergabung pada paruh kedua kompetisi. Berkat kegigihannya, duo Persijap itu akhirnya merapat ke PSIS, meski sebenarnya juga diminati tim-tim ISL.

“Mas Liluk sampai datang menemui saya di Jepara. Ini bukti kalau PSIS serius menginginkan saya. Sebagai pemain yang hidup dari sepakbola, saya juga butuh masa depan yang jelas. Itulah, mengapa saya akhirnya memilih PSIS,” cetus Anam Sahrul kala teken kontrak dengan manajemen PSIS, beberapa waktu lalu.

Penuturan mantan bintang Laskar Kalinyamat itu sudah cukup mewakili bahwa Liluk adalah negosiator handal. Kini, kerja keras Liluk dan semua komponen PSIS mulai terlihat nyata. Dengan tim yang solid, kampiun Liga Indonesia 1999 itu juga layak menjadi nominator juara Divisi Utama 2014.

“Kami hanya fokus untuk melakoni setiap tahap kompetisi. Tapi, dengan kerja keras tim dan dukungan masyarakat Kota Semarang, juara tentunya bukan sekadar fatamorgana. Dan, kami akan mati-matian untuk mewujudkannya,” pungkas dia. (*)