Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Mahasiswa Polines Ciptakan Pendeteksi Titik Api Berbasis Mobile Wireless Sensor

Mahasiswa Polines Ciptakan Pendeteksi Titik Api Berbasis Mobile Wireless Sensor

METROSEMARANG.COM – Magfur Ramdani berhasil menciptakan terobosan baru dalam pendeteksian titik api. Mahasiswa jurusan Elektro Politeknik Negeri Semarang (Polines) ini membuat sebuah Sistem Pemantauan Wilayah Berbasis Mobile Wireless Sensor Network. Sistem tersebut digunakan untuk early warning dalam kebakaran hutan.

Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Dhani, sapaan akrabnya menuturkan, sistem ciptaannya sebagai cara alternatif dalam membantu mengetahui data titik api di suatu lahan yang dipetakan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) quadcopter. Data sensor dikirim melalui telemetri 433 Mhz menuju Ground Control Station. Setelah itu data akan diproses oleh program antar muka yaitu SPTA Real-time v0.1.0. program tersebut dapat menampilkan akuisisi data suhu serta color layer berdasarkan perbedaan tingkat suhu.

“Sensor suhu panas kirim lewat radio telemetri ke drone segmen, data diparsing dari data sensor dengan data gps, jadi makin tinggi suhu makin merah warnanya dalam tampilan visual,” terang Dhani saat dihubungi metrosemarang.com, Kamis (8/9).

Dhani menggunakan drone dalam misi penerbangan di area yang hendak dilihat titik apinya. Ia telah melakukan uji coba di luas area pemantauan 3.662 meter persegi, dengan ketinggian 30 meter dan kecepatan drone quadcopter 18km/jam.

“Hasil pengukuran Real-time jika terbang setinggi 30 meter, maka ketepatan suhu makin mendekati nilai real permodelan suhu api dibandingkan pengukuran menggunakan termometer,” kata Dhani.

Penampilan visual untuk lokasi titik api bisa disinkronkan dengan Google map. Hal ini karena drone yang diterbangkan difokuskan pada pengukuran suhu. Waktu terbang kurang lebih sekitar 10 menit. Meski demikian ia mengaku masih ada kekurangan terutama tipe armada yang digunakan untuk pemantauan area yang lebih luas.

Menurutnya flight time berbanding lurus dengan area pemantauan sehingga dibutuhkan armada sejenis brushless motor ber KV rendah. Sejauh ini sensor suhu dapat mendeteksi suhu mencapai 50 derajat celsius pada ketinggian 30 meter. Namun kata Dhani, perlu dicoba pada ketinggian lebih dari 50 meter untuk melihat masihkah sensor dapat mengambil data titik panas.

Dhani menambahkan bahwa sudah ada perusahaan yang menawarkan untuk pengembangan sistem ciptaannya tersebut. Dhani memang mengaku proyeknya ini menghabiskan dana hingga Rp 8 juta.

Hal itulah yang sedikit menghambatnya menyelesaikan sistem pemantauan titik api. Ia membutuhkan waktu satu tahun hingga proyek yang juga tugas akhir kuliahnya terselesaikan. (vit)