Home > Berita Pilihan > Mangrove-mangrove Petani Mangunharjo Diolah jadi Batik yang Mendunia

Mangrove-mangrove Petani Mangunharjo Diolah jadi Batik yang Mendunia

METROSEMARANG.COM – Sebuah rumah bercat hijau di Kampung Mangkang Wetan Mangunharjo, Kecamatan Tugu Semarang, tampak lengang, pada Sabtu (1/4). Hariyati, si empunya rumah kemudian bergegas menyambut kedatangan metrosemarang.com sekitar pukul 13.00 WIB.

Batik Mangrove bikinan petani Mangunharjo yang mendunia. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Hariyati baru saja rampung mengerjakan pesanan batik pelanggannya dari luar kota. Batik yang ia buat selama ini terbilang unik. Bila umumnya batik dari pewarna sintetis, tapi dari jerih payahnya selembar kain batik dibuat dari tanaman mangrove.

“Ini baru aja selesai. Tiga bulan saya dapat banyak orderan dari luar kota. Tapi ada pula pembeli dari luar negeri,” kata perempuan 49 tahun itu.

Bersama para ibu yang tergabung dalam kelompok Batik Alam Wijaya Kusuma di RT 05/RW VI Mangkang Wetan, ia sudah tiga tahun terakhir menggeluti pembuatan batik mangrove. Ragam corak warna ia padukan sesuai keinginan pelanggan. Dan kebanyakan menyukai motif batik bergambar hutan mangrove yang jadi andalan kampungnya.

“Batik bergambar hutan mangrove paling dicari pembeli. Harganya mulai Rp 100 ribu sampai Rp 350 ribu. Sangat mahal memang karena pembuannya terbilang rumit dan butuh waktu paling tidak sebulan,” terangnya.

Hariyati memilih mangrove sebagai bahan pewarnaan utama karena melihat kondisi sosial masyarakat setempat bekerja sebagai petani mangrove. Berawal dari coba-coba, katanya cairan yang dihasilkan pada rebusan daun mangrove ternyata cocok diolah jadi pewarna batik. Gayung bersambut tatkala ada perwakilan UKM Mangkang Wetan yang memberinya modal ringan Rp 3 juta.

“Lagipula saya enggak punya modal buat beli pewarna sintetis. Makanya saya senang saat tahu mangrove bisa dijadikan pewarna batik. Hasilnya sangat bagus, warnanya kalem dan kainnya mudah menyerap keringat,” katanya mantap.

Kini batik mangrove kian digandrungi. Tiap bulan pesanan tak pernah sepi. Pelanggannya berasal dari pegawai negeri asal Bangka Belitung, Jakarta dan kota besar lainnya. Bahkan, batik mangrove sekarang telah merambah ke Eropa.

“Orang Italia, Belanda baru kemarin membeli batik mangrove. Mereka paling senang dengan bahannya yang ramah lingkungan,” cetusnya.

Sururi, Ketua Paguyuban Mangrove Lestari menyatakan tanaman mangrove yang kerap dimanfaatkan untuk pewarnaa batik terhampar di lahan seluas ribuan hektare.

Selain batik, serat dan daun mangrove juga diolah warganya jadi camilan, minuman hingga tas anyaman. “Ibu-ibu di kampung ini yang sering mengolahnya jadi ragam produk untuk dijual ke luar kota,” tandasnya. (far)