Home > METRO BERITA > Mantan BIN Minta Indonesia Tangkal Pemulangan WNI Anggota ISIS

Mantan BIN Minta Indonesia Tangkal Pemulangan WNI Anggota ISIS

METROSEMARANG.COM – Pemerintah Indonesia diminta segera mengantisipasi gelombang pemulangan warga negaranya yang ikut berperang dengan kelompok ISIS di kawasan Timur Tengah.

Peringatan tersebut disampaikan Mantan Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Asad Said Ali usai menghadiri dialog bersama takmir masjid dalam mencegah paham terorisme, di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Rabu (23/11).

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Asad mengatakan upaya untuk mengantisipasi masuknya WNI yang berafiliasi dengan ISIS yakni mempercepat pembahasan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Pasalnya, proses pembahasan revisi UU Antiteror itu hingga kini tak kunjung diselesaikan oleh para legislator Senayan.

“Saya rasa UU anti teror yang ada saat ini sangat lemah untuk mengantisipasi gerakan radikalisme. Nah, bila undang-undangnya tidak cepat diselesaikan, saya khawatir ISIS dengan mudah masuk ke negeri ini,” ujar Asad.

Kekhawatirannya tersebut cukup beralasan, mengingat saat ini pasukan gabungan yang dipimpin Amerika Serikat terus-menerus menggempur Irak yang jadi basis utama ISIS di Timteng.

“Kalau Kota Mosul kena (serangan), maka mereka akan pulang khususnya yang berstatus WNI. Semua titik yang jadi celah pemulangan mereka patut diwaspadai,” ungkap Asad lagi.

Ia menyatakan dengan jumlah WNI yang berangkat ke Suriah dan Irak kian bertambah, maka pengetatan pengawasan yang harus diprioritaskan ialah di area bandar udara.

“Mereka pasti balik lewat embarkasi bandara. Apalagi banyak anak 11 tahun yang dilatih perang di sana. Itu kan muncul lagi jika sudah tinggal lama di Indonesia,” jelasnya.

Upaya-upaya untuk menangkis gerakan radikal kini memang terus dilakukannya kendati tak lagi memegang pucuk pimpinan lembaga sandiyudha. Assad bilang pencegahan radikalisme bisa melalui gerakan penyuluhan dari masjid ke masjid. Dan wilayah Jawa Tengah telah memulainya sejak awal.

“Minimal gerakan di massjid digerakan sebagai daya getar untuk melawan radikalisme. Itu ampuh membantu deradikalisme. Kalau takmir masjid bersiaga penuh seharian, maka orang-orang yang ingin menyusupkan paham radikalĀ  tidak akan bisa masuk. Tapi sebaliknya, kalau pengurusnya pasif justru mudah diambil alih orang lain,” paparnya.

Di lain pihak, Ketua FKPT Jateng Najahan Musyafak mengaku tengah memantau ketat pamflet-pamflet dan spanduk yang ditempel di tiap masjid. Ia mengatakan gerakan makar terhadap NKRI bukanlah isapan jempol belaka.

“Saya sendiri yang menemukan beberapa buletin Salat Jumat milik masjid perguruan tinggi di Semarang yang isinya mengajak pada paham Non-NKRI. Makanya saya mendesak agar pengurus masjid diseleksi ketat. Masjid harus menumbuhkan kesadaran memerangi radikalisme,” katanya.

Ia pun mengajak kepada takmir masjid untuk melawan radikalisme dengan aksi kontra narasi. Ajakan tersebut disambut baik oleh salah satu perwakilan pengurus masjid. Noor Ahmad, Pembina MAJT menyatakan siap bekerjasama untuk menekan gerakan radikalisme di wilayahnya. (far)

Tinggalkan Balasan