Home > METRO BERITA > Mantan Pecandu Narkoba Dibekali Pelatihan Membatik

Mantan Pecandu Narkoba Dibekali Pelatihan Membatik

METROSEMARANG.COM – Antusias nampak pada wajah para mantan pecandu narkoba saat mengikuti pelatihan membatik di Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Senin (17/4). Mata mereka tertuju pada gerak-gerik tangan sang instruktur saat mulai memperkenalkan berbagai peralatan yang digunakan dalam proses membatik.

Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Satu persatu peralatan dan bahan diperlihatkan kepada sekitar 30 orang peserta eks pecandu narkoba. Mulai dari canting, kompor, wajan, gawangan, dingklik hingga bahan pewarna dikenalkan oleh sang instruktur beserta fungsi dan cara memakainya.

Tak hanya peralatan dan bahan, secara teori mereka diajarkan berbagai tahapan dalam membuat batik mulai dari kain bersih hingga menghasilkan sebuah karya batik yang siap digunakan.

“Untuk ujung canting gampang rapuh, jadi hati hati ya kalau mau menggunakan,” begitu kata instruktur memperingatkan kepada para peserta.

Usai memberikan pengarahan secara teori, sang instruktur mengajak para peserta untuk membuat pola batik. Berbagai bentuk pola seperti tumbuhan dan hewan mulai digambar dengan teliti oleh puluhan peserta yang mayoritas berusia di bawah 25 tahun itu.

“Ya seneng Mas, ada manfaatnya jadi nggak inget yang lalu-lalu (kecanduan narkoba),” ujar salah seorang peserta, Muhammad Ja’far Farid yang mengaku merasakan manfaatnya dengan adanya kegiatan seperti ini.

Ja’far mengaku tertarik dengan pelatihan ini. Ia juga mengatakan belum menemukan kesulitan dalam proses pembuatan batik di hari pertama yang rencananya akan digelar enam hari kedepan. “Ya susahnya cuman tadi pas nggambar pola, kainnya kesenggol temen sebelah,” ujar pemuda 20 tahun itu sambil tertawa.

Ja’far berkisah, ia sudah meninggalkan masa kelamnya sebagai pecandu narkoba sejak 8 bulan terakhir. Awalnya ia terkena razia petugas kepolisian pada tahun 2016 lalu yang membuatnya mau tidak mau harus berhenti mengkonsumsi barang haram tersebut.

Ia mulai mengenal obat-obatan terlarang tersebut sejak duduk di bangku kelas dua SMA, waktu itu usianya baru menginjak 17 tahun. Bersama teman diluar sekolah yang mayoritas seumuran, secara kolektif mereka membeli dan mengonsumsi barang haram tersebut. “Ya dulu hampir tiap harilah make itu (narkoba),” ujar Ja’far.

Semenjak ditangkap petugas polisi di kos-kosan bersama teman temannya tahun lalu, kini ia telah berhenti mengkonsumsi barang haram tersebut. “Dulu pas awal awal susah mau berhenti, kalo lagi sakau suka ubet nyari-nyari gitu,” imbuhnya.

Ja’far menambahkan, kedepan ia berencana untuk menjadikan kerajinan batik sebagai profesi. “Ya nyoba dulu latihan di sini, kalau cocok ya mbukak sendiri usaha batik,” beber Ja’far.

Progam pelatihan membatik ini merupakan kerja sama dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah dengan Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Pemprov jateng. “Semua barang barang dan bahan-bahan dari kami, jadi tinggal melakukan pelatihan, mereka langsung praktik aja, setelah pelatihan selesai kami mengarahkan untuk pemasaran juga,” ujar Kepala Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Pemprov Jateng, Hana Roichati.

Sementara itu, Kepala Seksi Pascarehabilitasi BNN Jateng, Sardiyanto mengatakan dengan adanya pembekalan ini merupakan wujud untuk mempersiapkan eks pecandu supaya mempunyai bekal yang nantinya bisa membantu perekonomian mereka.

Kerjasama antara BNNP Jateng dengan Balai Pelatihan Koperasi dan UMKM Pemprov Jateng memang baru pertama kali digelar. Rencananya, kedepan akan terus melakukan kegiatan semacam ini guna memberi bekal kepada mantan pecandu narkoba saat kembali ke lingkungan masyarakat. (fen)