Home > Berita Pilihan > Mbah Yuliyah Puluhan Tahun Hidup di Kandang Ayam

Mbah Yuliyah Puluhan Tahun Hidup di Kandang Ayam

METROSEMARANG.COM – Seorang perempuan tua mendadak menjadi perhatian banyak warga di Kampung Pecinan, Semarang setelah belakangan diketahui tinggal di bekas kandang ayam. Mbah Yuliyah, nama perempuan tersebut tampak termenung saat didatangi di rumahnya, Jalan Inspeksi, Semarang Tengah.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Mbah Yuliyah terlihat begitu lusuh siang itu. Tubuhnya yang kurus hanya tertutup selembar baju yang telah terkoyak dan selembar kain jarit pada bagian bawahnya. Di usianya yang telah menapaki angka 85 tahun membuatnya begitu rapuh.

Ia mengaku banyak orang berempati terhadapnya yang saban hari tinggal di rumah yang lebih pantas disebut kandang tersebut. “Kadang kalau ada orang lewat saya dikasih uang atau makanan, ya beginilah hidup saya,” kata Mbah Yuliyah dengan logat Jawa kental, Jumat (27/1).

Yang lebih menyedihkan lagi hampir semua jemarinya telah hilang, menurut cerita anaknya, semua jari Mbah Yuliyah telah putus digerogoti penyakit menahun.

“Sakitnya macam-macam Mas. Ada yang bilang dia sakit diabetes kering tapi katanya juga akibat digigit tikus terus putus sendiri,” sahut Tur Doniyah, anak kedua Mbah Yuliyah yang sesekali menengok disela kesibukannya bekerja jadi tukang angkut sampah.

Mbah Yuliyah bilang ia asli Magelang. Ketika raganya masih sehat, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Bila dewi fortuna tak berpihak padanya, ia kadang harus rela jadi tukang angkut sampah, pekerjaan yang kini ‘diwariskan’ kepada anaknya.

“Sekarang enggak bisa apa-apa. Sudah tidak bisa cari makan. Makanya saya tinggal di sini, itu pun tempatnya yang membuatkan anak saya,” sergahnya dengan suara lirih.

Praktis sejak 30 tahun terakhir Mbah Yuliyah menempati rumahnya yang dulu bekas kandang ayam tersebut. Tiap malam, ia tidur meringkuk di dalamnya, hanya ditemani secercah sinar rembulan yang menembus di sela bilik bambunya.

“Dia kalau diajak memeriksakan penyakitnya tidak pernah mau. Padahal saya tinggalnya di Kampung Baru Tikung, jaraknya cukup jauh dari sini,” kata Tur Doniyah ikut menimpali.

Tur Doniyah merupakan anak kedua Mbah Yuliyah. Selama ini, ia tinggal di rumah kontrakan bersama sang suami. Kala senggang, ia datang menengok Mbah Yuliyah.

“Tiap hari saya nengokin dia kalau sore pulang kerja. Saya harus meneruskan kerja jadi tukang sampah karena zaman sekarang susah cari kerja,” pungkasnya.

Ia pun berharap mendapat uluran tangan dari pemerintah agar dapat mengobati penyakit ibunya yang semakin tergolek lemah. (far)