Home > METRO BERITA > GADGET & TEKNO > METRO TALK > Media Sosial Semarang dan Teknologi Baru Bikin Jenuh? Begini Cara Mengatasinya.

Media Sosial Semarang dan Teknologi Baru Bikin Jenuh? Begini Cara Mengatasinya.

Ini dia penyebab kejenuhan menghadapi media sosial Semarang dan teknologi baru, serta cara mengatasinya.

Orang sibuk hanya bisa dikumpulkan dalam acara pernikahan atau upacara kematian,” kata orang. Media sosial mencoba menembus batas itu. Memberikan pengalaman baru, “berkumpul” bisa kapan saja. Video call, chat bersama, atau saling sapa dari akun masing-masing. Terutama di akhir pekan.

Pagi itu, kawan saya mengirimkan pesan di WhatsApp, dengan pertanyaan sama, “Situs download lagu yang bagus apa?“. Rupanya dia sudah search di Google, tetapi, diarahkan ke website yang penuh iklan, harus mengisikan captcha, paksaan mengikuti survey, melewati website penyingkat link, dll.
Akhirnya, saya memberikan penjelasan singkat kalau ingin download .mp3 tercepat : buka YouTube, lalu copy URL video itu, dan “convert online” dengan situs youtube-mp3. Bagi pemakai Kali Linux 2,0, hanya perlu memasang youtube-dl, sudah bisa dipakai untuk download video, convert mp3, hanya dengan sebaris perintah di Terminal.

Saya pernah mengajukan pertanyaan sama: “Situs download lagu yang bagus, di mana?“. Kebanyakan kawan-kawan menjawab dengan: (1) menyebut nama website, (2) streaming dari YouTube, (3) tergantung hasil dari pencarian Google, dan sisanya (4) memilih meng-copy dari orang lain.

Sebenarnya, ini hanya perbedaan pendekatan masalah. Kawan saya mencari “di mana” situs penyedia .mp3, sedangkan saya berpikir “bagaimana cara mengkonversi” video di YouTube menjadi audio .mp3 secara online. Tanpa aplikasi, tanpa ribet, dan berjalan cepat.

Kawan saya ini orang lama, dia sudah absen mengikuti perkembangan internet. Dia mengaku belum pernah menggunakan WhatsApp untuk bisnis, hanya kadang nongkrong di angkringan Semarang. Dulu kami sering chat di Yahoo! Messenger saat orang belum mengkoleksi .mp3 seperti sekarang. Download bisa dilakukan di group mIRC. Lantas dunia dia berubah, menghadapi pekerjaan yang supersibuk tetapi pekerjaan dia tidak terlalu membutuhkan komunikasi online.

TEKNOLOGI BARU, PEGALAMAN LAMA. Semakin sibuk, semakin berkurang hasrat mengikuti perkembangan. Penemuan itu melelahkan. Teknologi baru, selalu "mengancam". Bagaimana cara mengatasi?
TEKNOLOGI BARU, PEGALAMAN LAMA. Semakin sibuk, semakin berkurang hasrat mengikuti perkembangan. Penemuan itu melelahkan. Teknologi baru, selalu “mengancam”. Bagaimana cara mengatasi?

Lantas dunia berubah. Napster ditemukan. Napster datang dan menemukan cara-baru mendengarkan lagu, dengan berbagi .mp3, orang sibuk mendengarkan segala macam lagu. Tadinya orang “mencari” lagu dari CD (compact disc), setelah ada Napster orang bisa download lagu dengan cara tercepat: berbagi antar-pemakai. “Halo, saya punya lagu ini, silakan download/copy. Mana lagumu?“. Napster mengubah sejarah. Orang menyebutnya peer to peer (P2P). Konsekuensi yang terjadi, cara orang mendengarkan musik se-dunia, berubah total. Orang mendengar apa saja yang belum pernah mereka dengarkan. Napster terkenal. Pada tahun 2000, saat drummer Metallica menggugat Napster atas alasan hak-cipta, Napster menang melawan Metallica. Media menebar berita, meledek Metallica. Drummer Metallica stress, harus menjalani terapi psikologi karena kalah di pengadilan.
Para pemanja telinga, memiliki alternatif. Mereka download dengan torrent, atau mendengarkan di ReverbNation, Spotify, dan SoundCloud. Dunia mendengarkan lagu, semakin banyak opsi.

Saat YouTube ditemukan, seiring perkembangan, terjadi hal sama: orang melihat video-video aneh, mencari video (dan lagu) dari zaman yang pernah diceritakan orang tua, menonton trailer, BTS (behind the scene), video webinar (seminar melalui website), dll.
Rupanya, ini tidak terjadi di awal penemuan YouTube, melainkan, terjadi di awal orang berkenalan dengan YouTube. Atau teknologi baru lainnya.

Saat #Blogger, orang gampang menekan tombol “Subscribe” (berlangganan), menjelajah, belajar, dan mencari informasi dari blog. Bahkan rajin berkomentar. Blogger memberikan keajaiban baru, dengan slogan “Push-Button Publisher“. Hanya dengan menekan tombol, apa yang ditulis dari komputer ini, bisa dibaca semua pengakses website. Sejak lama pula, Blogger punya fitur “post via email”.
Sekali pengaturan, orang yang pegang smartphone, bisa selfie dan langsung terkirim ke blog. Tidak ada yang sulit, efeknya mendunia, tetapi, tidak menjamin orang mau melakukannya. “Tidak harus, belum sekarang, makasih atas infonya,” semacam itulah kira-kira keengganan terjadi. Bukan penolakan, melainkan penundaan.

Lama kelamaan, mereka jenuh atas penemuan. Secanggih apapun itu. Orang sekadar search di Google, menemukan lalu membaca apa yang dibutuhkan. Tidak jarang, orang tak ingat alamat blog yang sudah mereka buka. Mereka hanya ingat kata-kunci, membaca di tempat. Kegiatan menandai halaman (dengan klik “bookmark”) dan mengetikkan email untuk berlangganan artikel gratis, tak segencar masa-masa awal penemuan Blogger.
Orang melakukan atas dasar suka atau tidak suka, bukan butuh atau tidak butuh. Alasan “suka” melampaui hal lain, seperti: efisiensi, kebutuhan, sebaiknya, dll.

Saat Twitter masih baru, dengan cepat orang menekan tombol “Retweet”. Apa saja sepertinya bermanfaat kalau di-retweet. “Ini bermanfaat, sebaiknya saya bagikan.”. Tidak mengherankan, akun twitter edisi lama, bisa mendapatkan ribuan follower dalam waktu singkat. Twitter semakin canggih. Saking canggihnya, akun dengan follower “hantu”, bisa dibalik-nama layaknya surat kendaraan.

Saat seseorang baru mengenal Facebook, euforia juga terjadi. Orang memposting apa saja yang dianggapnya bagus, dari makanan, pertumbuhan anak, pertikaian, sampai pencitraan kebahagiaan. Sedang bersama, menandai, membagikan link, semua bisa terjadi di awal perkenalan. Ada yang masih bertahan, ada yang sudah ditinggalkan, dari kebiasaan itu sampai sekarang. “Indahnya berbagi” lama-kelamaan menjadi istilah yang abused.

Bukan Facebook yang memaksa orang bertingkah “aneh”. Pemakainya yang melakukan pilihan. Biarkan saja masa “aneh” terjadi di awal perkenalan orang terhadap Facebook. Kalau profile tidak disukai, remove dari pertemanan. Beres.

Setelah beberapa lama, orang-orang yang sudah melewati titik awal kejenuhan atas penemuan-penemuan itu, seperti membuat kita “kekurangan” waktu.

Lebih menyenangkan meng-copy milik orang secara langsung daripada download satu per satu. Lebih menyenangkan memakai flashdisk dan meng-copy dari kawan, daripada download film sendiri atau streaming. Sebagian orang memilih cara tersebut. Kebanyakan, mencapai pengertian hampir sama: nggak ada teknologi yang amazing, tidak ada kejadian baru yang menyenangkan, dan orang sudah terlalu sibuk. Cara-cara lama kembali digunakan.

Semakin sibuk, semakin berkurang hasrat. Orang memiliki tingkat kejenuhan sendiri-sendiri atas apa yang dianggap bagus dan revolusioner. Sekalipun itu datang dari agama, negara, ataupun kemanusiaan. Selain itu, penemuan (discovery) itu melelahkan. Menjalani dan menuruti rutinitas biasa, sehari-hari, dengan kondisi sama, lebih melelahkan daripada menjalani petualangan berat dalam satu minggu.

Ketakberbatasan penemuan teknologi baru, selalu mengancam, selalu “dilematis”. Begitu ada yang bagus, kita perlu meluangkan jadwal, mengubah rutinitas. Contoh kecil : begitu ada situs download film-baru (tinggal klik), “ancaman” yang datang adalah meluangkan space di hardisk. Mana yang harus dihapus? Dilema. Banyak film bagus, bagaimana cara meluangkan waktu untuk menontonnya sementara banyak jadwal lain tidak bisa ditinggalkan? Dilema. Liga Champion bisa dinikmati dengan streaming, begini caranya. Bisa juga dengan nonton bareng di kafe. Dilematis. Jadwal kesibukan diatur-ulang, mengubah hal-hal lain. Menembus rutinitas.

Setiap hari ada penemuan, ada hal bagus di website. Apapun yang akan terjadi, semuanya hanya prediksi. Bagus sekarang, besok belum tentu dianggap bagus selamanya.

Apapun yang telah terjadi, tetap ada pelajaran berarti: prinsip-prinsip lama yang tak tergantikan oleh teknologi baru. Logika macam apa yang akan digunakan untuk menghadapi permasalahan ini? Pilih mana? Apakah hubungan saya dengan manusia lain (terutama dengan pacar) akan terpengaruh? Apakah ini efisien untuk rutinitas saya? Apakah ada pengalaman baru jika saya memakainya?
Beberapa prinsip lama seperti itu, memang tidak bisa ditinggalkan. Sekalipun ada ratusan media online, cara orang membaca dan menulis tidak beranjak dari prinsip-prinsip lama. Teknologi sebaru apapun, tidak akan bergeser dari daftar pertanyaan tadi. Pilih pengalaman terbaiknya, bukan pilih kebaruan teknologinya.

Kadang prinsip lama perlu ditetapkan, bukan hanya karena satu tujuan, bukan karena hasil yang ingin dicapai. Seperti, bertemu teman lama untuk belajar memasak menu lama, walaupun YouTube menyediakan tutorial seperti ini. Kita butuh bertemu orang, bukan sekadar mengejar pengetahuan, tetapi untuk menikmati waktu bersama.

Mungkin kita senang mendengar cerita seorang kawan, tentang pengalaman hidupnya, di balik sebuah lagu yang dia sukai, meskipun kita sudah sering mendengarkan lagu itu.
Ada pengalaman lama yang membuat kita siap menghadapi teknologi baru. Ada pengalaman baru yang membuat kita tidak semakin sibuk, jika menemukan teknologi baru yang lebih baik. Saat itulah, pilihan terjadi, atas nama waktu dan pengalaman.
Kadang, membuat jarak dengan internet itu penting. Merasa selalu berada di dalam internet, membuat orang selalu bisa menunda, “Saya akan kembali besok, untuk download yang lebih banyak. Saya sudah tandai.“. Membuat jarak dengan internet, bisa dilakukan dengan membuat target harian. Kadang kita perlu membikin komitmen kepada diri sendiri: “satu hari, belajar satu hal”. Kadang cara itu perlu diterapkan, membuat satu pertanyaan, satu temuan, lalu menuliskan pengalaman itu.

Discovery Channel memiliki kalimat sakti, “What you discover today?“. Apa yang kamu temukan hari ini? Mungkin dengan prinsip lama : kamu bisa menemukan “pengalaman baru” di balik temuan-temuan orang lain yang terjadi setiap hari.
Akhir pekan, mungkin membuat Anda lebih sibuk menikmati waktu bersama kawan atau pacar, terhubung dengan media sosial. Atau mungkin memilih membuat jarak dari keramaian. Kadang menyendiri dibutuhkan, bukan untuk menghindari orang lain, tetapi untuk mendengarkan kata-hati sendiri, tanpa masukan dari orang lain. Sayangnya, menyendiri seperti ini jarang bisa terjadi saat sudah membuka Twitter atau Facebook, yang penuh interupsi dan gangguan.

Happy weekend di Semarang.

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link