Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Komunitas > Membangkitkan Emosionalitas Berkesenian dalam Reuni Teater Asa

Membangkitkan Emosionalitas Berkesenian dalam Reuni Teater Asa

METROSEMARANG.COM – Sosok Sunan Kalijaga menjadi bahan perbincangan masyarakat di negeri Damsyik, Timur Tengah. Hal itu lantaran lantunan adzannya dari Kadilangu, Demak terdengar sampai di telinga Baginda Faruq, raja negeri Damsyik.

Peristiwa itulah yang kemudian mempertemukan kedua tokoh Islam dari benua yang berbeda tersebut. Namun, Baginda Faruq murka melihat Sunan Kalijaga yang dianggap kurang ajar dalam bersikap, terutama kepadanya.

Namun, penjelasan Sunan Kalijaga membuat penguasa Damsyik itu tak berkutik. Sebab, pemimpin dalam Islam harus mencontoh Nabi Muhammad, yang sederhana dan tidak serakah.

Reuni Teater Asa ke 34. Foto: metrosemarang.com/istimewa
Reuni Teater Asa ke 34. Foto: metrosemarang.com/istimewa

Demikian penggalan cerita pertunjukan teater “Sunan Sableng dan Baginda Faruq” karya Emha Ainun Nadjib yang disutradari Syahir El Hasany dalam acara Reuni Teater Asa Semarang ke 34 tahun, Sabtu (22/10). Setidaknya seratusan Suheng (alumni) dari angkatan 1982 hingga 2016 hadir dalam reuni tiga tahunan tersebut.

Rahmad Maulana, salah seorang pendiri Teater Asa mengatakan bahwa kesenian adalah media untuk penyempurnaan sebagai manusia. Yakni tempat mengolah kepribadian dengan berlatih rasa dan pengetahuan.

“Teater itu media mengolah emosionalitas dan intelektualitas. Sehingga nantinya dapat menjadikan diri kita berkesadaran penuh dalam menjalankan spiritualitas. Seperti slogan Asa, puncak berkesenian adalah pengalaman spiritual,” ujarnya.

Teater Asa, dikatakannya, kali pertama didirikan untuk berkesnian yang berdasar atas norma-norma agama dan budaya tanah air. “Bukan menjadi alasan yang keluar dari syariat. Kebebasan dalam berkesenian masih berpedoman pada nilai agama, ketuhanan dan budaya,” lanjutnya.

Untuk itu, pementasan yang disuguhkan Teater Asa selama ini mengandung nilai dakwah, meskipun eksplorasi bentuk visual panggung selalu berkembang. “Berkembang itu harus, mengikuti zaman. Namun, jangan sampai lupa cita-cita terbentuknya teater ini,” paparnya.

Jalal Suyuthi, yang juga pendiri Teater Asa yang lain menambahkan bahwa para pelaku teater harus siap bermasyarakat dan fleksibel. “Selain emosionalitas dan intelektualitas, seniman teater juga harus mengolah sensitifitasnya. Karena kita tidak hidup sendiri,” ucap pegawai di Kementrian Agama pusat ini.

Lurah Teater Asa, Syahir El Hasany menambahkan, organisasi teater ini berasaskan kekeluargaan. Sehingga aturan yang berlaku bersifat tidak tertulis. “Kita tidak menjalankan organisasi berpedoman konsep kekeluargaan. Yang tua kami panggil Kang dan Mbakyu. Kalau yang sudah alumni kita sebut Suheng yang berasal dari kata Suhu,” tandasnya.

Teater asa sendiri didirikan 18 Oktober 1982 silam di Fakultas Syariah UIN Walisongo, diantaranya oleh Niam Syukri, Rahmad Maulana, dan Jalal Syuthi. Selain teater, kesenian yang dikembangkan tari, film, dan musik. (*)