Home > METRO BERITA > KULINER > Menelusuri Jejak Islam Kendal di Masjid Kuno Berusia 200 Tahun

Menelusuri Jejak Islam Kendal di Masjid Kuno Berusia 200 Tahun

masjid metro2

KENDAL – Masjid Darul Fallah masih berdiri kokoh dan menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Patebon Kendal. Berusia 200-an tahun, masjid yang awalnya merupakan tempat Bupati Kendal ke tiga, Kanjeng Raden Tumenggung Mertowijoyo mencari ketenangan jiwa hingga kini masih kokoh berdiri. Meski sudah  mengalami perombakan masjid ini merupakan saksi bisu perjuangan Mertowijoyo dalam syiar agama Islam di pesisir pulau jawa sekaligus melawan penjajahan VOC.

innama ya’muru masajidallah man amana billahi wal yaumil akhir, tulisan dengan huruf arab surat At Taubah ayat 18 itu terpampang jelas di atas gerbang masjid Darul Falah Desa Sukolilan Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Di bagian atas gerbang sendiri berbentuk setengah lingkaran dan di sisinya terdapat hiasan serupa kubah berukuran kecil dengan lafal Allah.

Jika dilihat sekilas, kita tidak akan menyangka masjid  yang terletak di pemukiman  ini merupakan tempat ibadah umat muslim yang sudah berusia sekitar 200 tahun lebih. Sejak awal didirikan pada tahun 1800 masehi hanya tiang penyangganya saja yang masih utuhsedangkan bagian lain sudah mengalami renovasi.

Komplek bangunan masjid tidak halnya seperti masjid pada umumnya, di bagian belakang masjid juga terdapat komplek makam sang pendiri masjid sekaligus sosok yang memiliki andil dalam penyebaran agama Islam di tanah Kendal. Di dalam makam tersebut bersemayam Kanjeng Raden Tumenggung Mertowijoyo yang merupakan Bupati Kendal ke tiga. Ia merupakan tokoh keturunan keraton Jogjakarta yang menjabat sebagai bupati pada tahun 1725 – 1736 masehi.

Juru kunci makam Mertowijoyo, Nur Hasan mengatakan setelah menjabat, Mertowijoyo mencari sebuah lahan sebagai tempat untuk bertapa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Namun karena pengikutnya banyak yang berdatangan dan menunaikan ibadah di padepokannya maka tempat tersebut dijadikan masjid,” katanya.

masjid metro1

Ditambahkan masjid ini tidak hanya sebagai tempat penyebaran agama Islam di Kendal, melainkan juga sebagai pusat penyusunan strategi untuk melawan penjajahan VOC. “Disinilah Mertowijoyo aktif memberi semangat dan mengajak para pengikutnya untuk terus melawan penjajah,” imbuh Nur Hasan.

Sayangnya hingga kini tidak banyak literatur yang ditemukan mengenai kehidupan bupati Kendal ke tiga dan masjid yang ia dirikan ini. Terlebih dengan adanya upaya dari Mertowijoyo untuk memerangi sihir dan ilmu hitam yang saat itu banyak dilakoni warga di lokasi tersebut. Nur Hasan ragu mengenai kabar tersebut, ia hanya mengungkapkan selain makam Mertowijoyo di dekatnya juga terdapat makam Djimat Kendil wesi yang diduga pusaka beliau yang digunakan untuk memerangi musuh-musuhnya.

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link