Home > Berita Pilihan > Mengenal Djoni Santoso, Dukun Kamera di Tengah Serbuan Digitalisasi

Mengenal Djoni Santoso, Dukun Kamera di Tengah Serbuan Digitalisasi

METROSEMARANG.COM – Berambut gondrong, berjenggot panjang, dengan asesoris batu akik di jari-jari tangannya, mempertegas kesan angker dalam dirinya. Tapi siapa sangka, di balik penampilan ala dukun atau paranormal, pria ini ternyata sangat piawai mengotak-atik aneka rupa kamera.

Djoni Santoso dan salah satu koleksi kameranya. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Djoni Santoso namanya, seorang tukang servis kamera legendaris di Kota Semarang. Siang itu Djoni terlihat sibuk membersihkan beberapa kamera di depan tatanan ratusan koleksinya.

Salah satu kamera tertua yang ia miliki bermerk Dogmark, sebuah kamera berbentuk persegi dengan ukuran kurang lebih 40×40 centimeter buatan Jerman kisaran tahun 1900. Dibeli seharga Rp 5 juta, kamera ini pernah ditawar seseorang seharga Rp 20 juta, namun tidak dijualnya.

“Ya ini masih berfungsi tapi susah nyari filmnya, ada di Bandung pesennya minimal 100 lembar dan harganya juga mahal, ukurannya kan soalnya besar nggak kayak film yang biasa itu,” kata Djoni saat ditemui metrosemarang.com, Selasa (25/4).

Kamera tersebut menggunakan film berukuran 18×24 cm yang kini sudah jarang bahkan hampir tidak ada yang menjualnya. Kini kamera tersebut menjadi bagian dari ratusan kamera yang disimpan dalam sebuah lemari kaca yang menggantung di dinding ruang tamu milik Djoni.

Sejak era digital belum mendominasi, pada 1972 lalu Djoni telah berkecimpung di dunia kamera. Waktu itu ia mengabdi menjadi assisten servis kamera. Awalnya ia belajar service kamera dengan mengamati cara kerja saat menjadi assisten.

Berawal dari situ, Djoni mulai gemar mereparasi dan bekerja ekstra hingga bisa mulai mengoleksi kamera tua yang kini mencapai sekitar 400-an.

Ratusan kamera kuno koleksi Djoni Santoso. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Di rumahnya, Karangwulan Sari II, No 18, Semarang Selatan hingga kini Djoni masih melayani jasa servis kamera. Ia mengaku pendapatannya sebagai tukang servis spesialis kamera analog kian hari makin menurun.

“Perkembangan kamera digital sekarang sangat cepat jadi sudah pada ninggalin kamera analog, bahkan sekarang pakai HP aja udah bisa motret dengan kualitas yang bagus,” beber pria yang mengaku datang Ke Semarang sejak tahun 1968 lalu.

Saat ini tidak ada yang datang ke tempat Djoni atau biasa disebut dengan Pustaka Kamera untuk memperbaiki kamera analog. Ia kini hanya melayani perbaikan lensa dan pembersihan lensa. Maklum, Djoni tak begitu mendalami kamera yang bersifat digital.

Ia berkisah, dulu saat masih ramai-ramainya kamera analog, dalam sehari ia mampu mengantongi uang sekitar Rp 750 ribu. Pelanggan yang mereparasi kamera di tempatnya pun tak sedikit dari luar Pulau Jawa.

“Dulu tu ada dari Kalimantan kayaknya dia service di tempat saya padahal juga nggak ketemu orangnya, bahkan harga service sama harga ongkos kirimnya lebih mahal sama harga service, tapi alhamdulillah dia puas dengan hasil garapan saya,” beber Djoni.

Namun kini pendapatannya tak sebanyak kala itu. Kini pelanggannya berangsur turun. Kebanyakan orang datang ke tempatnya hanya untuk mereparasi lensa atau membersihkan kotoran di dalam lensa. “Ya kadang sehari cuman dapet Rp 50 ribu, bahkan kadang nggak dapet apa apa,” ujarnya.

Selain itu atas kepiawaiannya dalam mengotak-atik kamera lawas, Djoni dijuluki sebagai dukun kamera sejak tahun 1982. Julukan tersebut berawal dari seorang pelanggan asal Pekalongan datang untuk mereparasi kamera, dan dia bilang bahwa keahliannya seperti dokter namun yang dipegang kamera.

“Lalu dulu kan banyak anak-anak yang kumpul di sini bilang kok koyo ngene dokter, dukun iki,” tutur Djoni saat ditanya asal muasal julukan Dukun Kamera.

Kini di Semarang Djoni menjadi seorang fotografer sekaligus tukang servis kamera analog legendaris. Ia juga kerap menjadi seorang pembicara dalam diskusi publik tentang dunia fotografi. (fen)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link