Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Mengenang Prof Eko – Pecinta Puisi dan Penyabet 4 Rekor MURI

Mengenang Prof Eko – Pecinta Puisi dan Penyabet 4 Rekor MURI

Siapa dapat melupakan tawa khas Profesor Eko Budihardjo? Cara tertawanya sangat membekas di ingatan. Begitupun cara Prof Eko berpuisi. Puisi-puisinya dijuluki “puisi mbeling”. Karena memang selalu menggelitik.

image

Satu puisi yang sangat dikagumi Prof Eko, adalah karya Ikra Negara berjudul Merdeka yang terbit di salah satu koran nasional saat HUT RI. “Hanya ada satu kata dalam tubuh puisi itu. ‘Belum’ itu saja. Tapi coba rasakan maknanya, begitu dahsyat dan dalam. ‘Merdeka, belum’,” begitu kekaguman yang pernah diucapkan Eko.

Kecintaan pada seni dan kebudayaan, dilampiaskan Prof Eko saat bergabung dengan Dewan Kesenian Jawa Tengah. Ia pernah mengetuai dewan kesenian dalam waktu yang cukupnlama, 1994 hingga 2008. Prof Eko juga cukup lama didapuk sebagai penasihat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang, tahunn1998-2006.

Aktifitasnya di bidang akademik sudah dihafal khalayak. Di sisi lain, hingga penghujung usianya, Prof Eko masih aktif menjabat Ketua Dewan Pertimbangan dan Pembangunan Kota Semarang, Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari Jakarta, Ketua Paguyuban Adhiyuswa Semarang, dan Ketua Komisi Budaya Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Jakarta.

Prestasi akademis yang diraih Prof Eko tak terbilang. Tapi tak banyak yang tahu, Prof Eko telah menyabet empat rekor Museum Republik Indonesia (MURI). Pertama, sebagai guru besar termuda. Kedua, meluncurkan lima buku sekaligus dengan penerbit berbeda.

Ketiga, pemrakarsa program double degree antara Universitas Diponegoro dan lima perguruan tinggi di Prancis. Keempat, sebagai pemrakarsa “bedhol kampus”,  rektor dan segenap dekan menjalin kerjasama sekaligus dengan tujuh perguruan tinggi di Amerika Serikat. (*)