Home > METRO BERITA > KOLOM METRO > Menggugat Kejujuran Sepakbola Indonesia

Menggugat Kejujuran Sepakbola Indonesia

fairplay flag

JUJUR itu mujur. Simple tapi jika dicerna lebih jauh, filosofi ini memberi banyak sisi positif dalam kehidupan kita. Pelatih senior Sartono Anwar pun begitu yakin bahwa semua hal yang diawali dari ketidakjujuran bakal menghadirkan petaka.

Sartono ingin menekankan tentang pentingnya kejujuran sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan diri. “Percayalah, semua hal yang diawali dari ketidakjujuran pasti akan hancur,” begitu ucap Sartono saat dimintai komentar soal sepakbola gajah PSS vs PSIS.

Ucapan pelatih yang memberi gelar Divisi Utama era Perserikatan 1987 untuk PSIS Semarang itu juga cukup pantas dialamatkan pada PSSI. Induk organisasi sepakbola nasional pimpinan Djohar Arifin Husin ini kembali gagal mengembalikan kepercayaan publik dengan serangkaian hasil mengecewakan yang didapat Timnas Garuda dari semua level.

Kekalahan 0-4 Zulham Zamrun dkk dari Filipina di fase kualifikasi Piala AFF 2014, seolah makin menegaskan ada yang tidak beres dalam PSSI atau lebih tepatnya ketidakbecusan dalam mengelola timnas. Timnas Indonesia hanya jalan di tempat, di saat tim-tim lain berlomba-lomba untuk berbenah dan menghasilkan prestasi.

Filipina, tim yang pernah dibantai dengan skor 13-1, kini sudah jauh berkembang pesat. Kesuksesan negara Manny Pacquiao tentunya bukan semata karena program naturalisasi. Kalau cuma naturalisasi, Indonesia juga melakukan hal yang sama. Jangan heran, jika nantinya Timor Leste juga bisa menghancurkan skuad Garuda.

Menyitir ucapan Sartono Anwar bahwa segala sesuatu yang diawali dengan ketidakjujuran pasti akan hancur. Inilah yang terjadi pada Timnas kita. Ketidakberdayaan pemain-pemain Timnas di hadapan bule-bule Filipina merupakan imbas dari kompetisi yang amburadul, kalau tidak ingin dicap tidak jujur.

Musim 2014, bisa jadi menjadi ujian yang sangat berat bagi PT Liga Indonesia, selaku operator kompetisi. Begitu banyak insiden yang terjadi, mulai dugaan pengaturan skor, isu jual beli pertandingan dan yang menjadi gong adalah drama lima gol bunuh diri di laga PSS vs PSIS. Tapi, itu semua juga tak terlepas dari ketidakmampuan PT LI selaku kepanjangan tangan PSSI dalam mengelola kompetisi.

Kompetisi yang sehat, lebih berpotensi melahirkan pemain-pemain yang hebat. Sayangnya, itu tidak terjadi di Indonesia. Jika ada final turnamen pra-musim bergulir setelah kompetisi resmi berakhir, maka Liga Indonesia tempatnya. Cukup aneh ketika partai puncak Inter Island Cup yang notabene merupakan turnamen pra-musim justru dilakukan setelah ISL berakhir.

Bagaimana PT LI membikin format dan jadwal  kompetisi juga pantas diperdebatkan. Format yang disusun sejak awal pun begitu mudah berubah karena desakan segelintir pihak. Mereka juga tidak mampu menyesuaikan jadwal kompetisi dengan agenda Timnasnya.

Maka, jangan heran ketika Alfred Riedl  mengeluh fisik pemain Garuda tidak dalam kondisi prima untuk bertarung di level Piala AFF. Maklum, sebagian besar pemain Timnas hanya punya waktu istirahat kurang dari sebulan setelah kompetisi berakhir. Pelatih sekelas Jose Mourinho pun pasti akan pusing jika dihadapkan pada situasi yang sama.

Reputasi Riedl memang tidak bisa disamakan dengan Mourinho. Tapi, pria Austria itu juga bukan pelatih amatiran. Dia juga pernah sukses mendongkrak prestasi Timnas Vietnam hingga bisa bersaing di level Asean.

Ketidakbecusan PT LI merancang kompetisi juga terjadi di level Divisi Utama. Bahkan, di kompetisi kasta kedua ini jadwalnya lebih padat. Tim-tim yang ingin promosi ke ISL harus melewati jalan berliku dan melakoni setidaknya 26-27 pertandingan, mulai dari penyisihan grup, babak 16 besar, 8 besar hingga empat besar. Jumlah pertandingan itu harus dilahap dalam waktu efektif  enam bulan saja atau sekitar 24 pekan.

Frekuensi pertandingan yang begitu padat dan format kompetisi yang bertele-tele, disebut-sebut juga menjadi salah satu pemicu terjadinya drama lima gol bunuh diri. Lantas, siapa yang diuntungkan dengan format kompetisi seperti itu? Yang pasti bukan klub, karena mereka ingin berharap bisa segera mengakhiri kompetisi.

PSS dan PSIS akhirnya harus kehilangan kesempatan untuk menapak ke level ISL. Kesempatan untuk membangun tim yang lebih kuat musim depan juga terancam kandas setelah Komdis PSSI juga menjatuhkan sanksi berat kepada para pemain dan ofisial kedua tim. Sayangnya, lembaga hukum pimpinan Hinca Panjaitan itu belum pernah sekalipun mengumbar dasar aturan terkait hukuman tersebut.

Dan, dari level Divisi Utama ini juga melahirkan kejutan yang luar biasa dengan lolosnya Persiwa ke ISL. Bersama PSGC Ciamis, wakil Papua itu akhirnya diizinkan tampil di semifinal menggantikan PSS dan PSIS, meski pernah berstatus mangkir bertanding. Tim Badai Pegunungan memilih tidak bertanding melawan PSS karena tidak kebagian pesawat. Cukup aneh memang, tapi alasan itu sudah cukup meyakinkan Komdis bahwa tidak ada keinginan untuk sengaja mengalah.

Inilah realita sepakbola Indonesia. Ucapan Hinca kepada Ronald Fagundez dan Julio Alcorse yang menyebut kedua pemain PSIS itu tidak pantas bermain di Indonesia memang ada benarnya. Mereka terlalu santun untuk berkompetisi di liga yang penuh drama dan ketidakjujuran. (*)