Home > METRO BERITA > Menghadang Bahaya Sup Plastik untuk Selamatkan Lingkungan

Menghadang Bahaya Sup Plastik untuk Selamatkan Lingkungan

Sampah plastik di aliran Sungai Banjir Kanal Barat. Foto Metrosemarang
Sampah plastik di aliran Sungai Banjir Kanal Barat. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Pemakaian plastik terus tumbuh. Plastics Europe mencatat produksi plastik pada 1950-an 1,5 juta ton per tahun, tahun 2011 menjadi 280 juta ton. Tanpa sadar makhluk hidup termasuk manusia telah memakan plastik. Saatnya mengurangi penggunaannya.

Film karya Chris Jordan berjudul “Midway, Message From The Gyre” memilukan. Bayi burung albatros laysan (Phoebastria Immutabilis) terkulai di tangan kanan Jordan. Sementara tangan kiri Jordan menampung sampah plastik, serpihan bungkus makanan, remah-remah mainan, hingga kancing baju, berasal dari tubuh bayi burung laut itu.

Gambar nyata itu diambil di Kepulauan Atol Midway, di Kawasan Pasifik Utara. Kepulauan itu terisolir, jauhnya lebih dari 2.000 mil dari benua terdekat tempat bermukim manusia. Namun lebih dari 10 ribu bayi albatros mati dengan sampah peradapan manusia di tubuh mereka. Induk albatros pun mati tercekik sampah plastik.

Albatros adalah spesies burung laut berukuran besar, pemakan hewan laut di permukaan. Albatros menyambar apa saja yang dikiranya makanan. Termasuk sampah plastik yang mengapung di permukaan laut Pasifik Utara, salah satu gira(gyre) yakni tempat sirkulasi air laut berskala besar.

“Studi kasus di Belanda memperkirakan 80 persen sampah laut berasal dari daratan yang terbawa arus sungai,” kata Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Prof Budi Widianarko dalam seminar bertajuk “Combatting The Plastic Soup di Unika, Kamis (27/11).

Data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2011 menyebut sampah plastik yang mengapung di Pasifik Utara meningkat 100 kali lipat dalam 40 tahun terakhir. Menurut Komisi OSPAR (Oslo and Paris Conventions), 78 persen dari sampah di pantai-pantai Atlantik Utara merupakan plastik.

Sup Plastik

Sampah plastik di seluruh gira, Samudra Hindia, Pasifik Utara dan Selatan, serta Atlantik Utara dan Selatan terdegradasi dengan berbagai proses, hingga mencapai ukuran milimikro. Itu yang disebut plastic soup atau sup plastik.

Bukan albatros saja yang terancam memakannya, tapi ikan, kerang dan lainnya. Lembaga Penelitian Algalita Marine menemukan partikel plastik pada 35 persen dari 661 ikan lentera yang diambil dari berbagai lautan.

“Kalau ikan dan hewan laut lain makan plastik. Manusia yang memakan seafood, bisa saja makan plastik,” kata Widianarko. Pihaknya baru saja memulai penelitian tentang kandungan mikro-plastik pada makanan laut dan dampaknya bagi kesehatan manusia.

“Jika anda ingin menghentikan polusi, maka harus diperangi sumbernya,” kata Rick Broersma. Bersama istrinya Valerie Blanco, ia tergabung dalam proyek pembersihan Sungai Meuse, salah satu sungai tertua di dunia. Meuse adalah sungai utama di Eropa yang mengalir dari Perancis, melewati Belgia dan Belanda dan berakhir di Laut Utara.

“Semua setuju jika Meuse adalah sungai yang cantik. Tapi jika airnya menyusut, akan terlihat plastik-plastik menempel di pinggirnya. Itu terbawa ke laut beserta remah-remahnya,” ujar Valerie dalam seminar di Unika.

Menurut dia, berjalannya proyek pembersihan Sungai Meuse didukung beberapa faktor. Diantaranya adalah keterlibatan relawan, dukungan kelembagaan dan seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap sungai, serta komunikasi intensif.

“Harus dilakukan secara berkelompok, tidak bisa sendiri. Sebarkan proyek yang dilakukan dengan media komunikasi yang meluas. Media sosial dan media massa,” demikian Valerie. Proyek Meuse ini bisa menjadi referensi pembersihan sungai di Indonesia termasuk Kota Semarang yang dekat dengan laut.

Namun ada cara lain selain membersihkan sampah plastik. Mengumpulkan, mendaur ulang dan memakainya. Hal paling mudah dan bisa dilakukan secara mandiri adalah mengurangi penggunaannya. (metrosemarang/MS-06)