Beranda METRO GAYA Imlek Semarang Mengintip Aneka Hidangan Wajib saat Imlek

Mengintip Aneka Hidangan Wajib saat Imlek

BERBAGI
Kue Keranjang, salah satu sajian wajib saat Imlek. Foto Metrosemarang/dok wikipedia
Kue Keranjang, salah satu sajian wajib saat Imlek. Foto Metrosemarang/dok wikipedia

SALAH satu agenda yang dilakukan warga Tionghoa saat Imlek adalah menyiapkan makanan untuk jamuan makan bersama. Tiap masakan yang disiapkan bukan sembarang makanan, sebab warga Tionghoa percaya setiap makanan adalah simbol pengharapan yang memiliki arti tersendiri.

Lalu apa saja makanan yang wajib tersedia selama Imlek? Yuk kita intip!

1. Mie Panjang Umur

Mie dipercaya merupakan simbol panjang umur. Siapapun yang memakannya diharapkan akan berumur panjang. Untuk melengkapi makna tersebut, mie harus disajikan secara utuh dan tidak boleh putus.

2. Telur Rebus dan Teh

Telur yang direbus dengan air teh dipercaya merupakan sumber kesuburan. Saat telur direbus juga dapat ditambahkan kecap asin, kayu manis dan lada hitam, yang akan membuat rasa telur tak lagi polos.

3. Ayam, Ikan dan Babi

Bagi warga Tionghoa, babi merupakan perlambang hewan yang malas. Adapun ayam merupakan hewan yang serakah karena kebiasaannya berpindah tempat ketika makanannya belum habis. Sementara ikan, di satu sisi kerap disamakan dengan ular yang jahat lantaran memiliki sisik, namun di sisi lain, ikan juga melambangkan rezeki dan keberuntungan.

Menghidangkan masakan dari ketiga hewan itu diharapkan akan membuat si penyantapnya tidak meniru sifat buruk hewan-hewan tersebut. Seluruh hidangan ayam dan ikan harus disajikan secara utuh sebagai simbol keutuhan dan kemakmuran yang berlimpah.

4. Jiaozi

Jiaozi adalah makanan tradisional China yang juga dikenal dengan nama Kuo Tie, dan biasa disajikan sebagai makanan pembuka atau camilan. Bentuknya sendiri seperti pangsit yang berisi adonan daging babi atau udang cincang dan sayuran. Jiaozi merupakan makanan penting dalam tradisi kuliner masyarakat Tionghoa, karena kerap disantap bersama dengan keluarga besar dan melambangkan kebersamaan.

Pada umumnya, di malam Imlek seluruh keluarga akan berkumpul dan memakan Jiaozi yang dibentuk bulat, sebagai harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan. Secara simbolik, bentuknya yang bulat mirip dengan uang China kuno dan juga dijadikan perlambang kelimpahan rezeki. Beberapa masyarakat Tionghoa bahkan juga masih melestarikan budaya memasukkan uang koin ke dalam Jiaozi, lho!

5. Kue Keranjang

Sesuai tradisi, perayaan Imlek tidak akan lengkap tanpa kue keranjang atau Nian Gao. Kata Nian berarti “tahun”, sementara Gao berarti “kue” dan juga terdengar seperti “tinggi”. Inilah mengapa kue keranjang biasanya disajikan dengan cara disusun tinggi atau bertingkat, dan semakin mengecil di bagian atasnya. Ini merupakan perlambang makna peningkatan rezeki atau kemakmuran. Kue keranjang juga kerap disusun dengan kue mangkok berwarna merah di atasnya. Ini melambangkan kehidupan yang manis dan semakin menanjak semakin merekah seperti kue mangkok.

6. Jeruk

Masyakarat Tionghoa sangat senang makan jeruk – terutema yang berwarna kuning, karena buah yang satu ini ternyata merupakan perlambang kemakmuran dan kekayaan yang selalu bertumbuh. Inilah mengapa jeruk yang disajikan di kala perayaan Imlek sebisa mungkin masih memiliki daun di tangkainya. Daun ini menandakan adanya kehidupan dan kesejahteraan.

7. Pisang Raja

Buah lain yang juga wajib ada ketika Imlek adalah pisang raja. Maknanya tidak jauh berbeda dari jeruk, yaitu kemakmuran dan kekayaan.

8. 12 Macam Masakan dan Kue

Pada perayaan Tahun Baru Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa yang berkecukupan selalu menyediakan 12 jenis masakan dan 12 jenis kue, terkait dengan shio yang berjumlah 12. Selain masakan yang selalu mengandung makna tertentu, kue-kue yang disajikan juga biasanya memiliki rasa yang lebih manis dari biasanya, dengan harapan agar hidup mereka juga menjadi lebih manis dan penuh rezeki di tahun-tahun berikutnya. (ren)

Sumber : Openrice

BERBAGI