Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Menguak Sosok Diponegoro sebagai Bangsawan Jawa dan Santri

Menguak Sosok Diponegoro sebagai Bangsawan Jawa dan Santri

METROSEMARANG.COM – Tidak banyak diketahui jika Pangeran Diponegoro ternyata merupakan seorang santri. Selama ini ia lebih dikenal sebagai pejuang kemerdekaan pada masa kolonial, serta sosoknya sebagai bangsawan Jawa lantaran ayahnya adalah Sultan Hamengku Buwono III dari Kasultanan Yogyakarta.

Supriyo Priyanto memaparkan sosok Pangeran Diponegoro saat mengisi seminar Nasional di Gedung ITC Lantai 5 Undip Tembalang, Kamis (20/10). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Supriyo Priyanto memaparkan sosok Pangeran Diponegoro saat mengisi seminar Nasional di Gedung ITC Lantai 5 Undip Tembalang, Kamis (20/10). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Hal tersebut dipaparkan Supriyo Priyanto, Ketua Pusat Kajian Sejarah dan Dokumentasi Diponegoro, Universitas Diponegoro (Undip) dalam seminar Kebangsaan Indonesia, NKRI, Islam, dan Globalisasi Ideologi, Kamis (20/10), di Gedung ITC lantai 5 kampus setempat.

Ia menambahkan, darah santri dalam diri Pangeran Diponegoro mengalir dari leluhurnya, Sultan Mangkubumi, seorang Khalifatullah yang berusaha mengintegrasikan kehidupan beragama dalam birokrasi kerajaan.

“Hal ini turut memengaruhi kepribadian Pangeran Diponegoro, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang religius. Beliau hidup di dua dunia, bangsawan dan santri. Tapi roh-roh Jawa yang ditemuinya telah membimbingnya memilih santri sebagai jalan hidupnya,” kata Supriyo

Pada masa pergolakan melawan penjajah, ia dihadapkan pada dua pilihan. Hidup sebagai bangsawan atau bangkit melawan sebagai santri. Ia akhirnya  memilih kehidupan santri untuk berjuang dalam perang Sabil.

Keputusan besar itu diambil usai adanya perintah dari Ratu Adil, melalui Sasmita Gaib versi mistik Jawa. Perjumpaan keduanya terjadi di Gunung Rasmuni menghasilkan perintah, hanya dirinya saja yang mampu memimpin tanah Jawa.

Hingga akhir hayatnya, Pangeran  Diponegoro tetap berjuang di jalan Allah dan di bawah panji-panji Islam. “Beliau telah hidup dengan kemewahan bangsawan, tapi dengan berani memutuskan mengambil hidup sebagai santri hingga akhir hayatnya,” imbuh Supriyo. (vit)